Risalah Tauhid di Penjara Mesir: Menguak Misi Utama Nabi Yusuf
Miftah yusufpati
Rabu, 15 April 2026 - 18:44 WIB
Hingga akhir hayatnya, Yusuf tetap berada di Mesir, mengelola perbendaharaan negara dengan kejujuran, sekaligus menjadi saksi kebenaran bagi kaumnya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Sejarah para nabi adalah estafet panjang yang tak putus dari satu garis nasab mulia. Setelah masa Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub alaihim sallam, tongkat dakwah tauhid murni itu beralih ke pundak Yusuf ash-Shiddiq. Beliau bukan sekadar figur dalam romansa masa lalu, melainkan prototipe diplomat langit yang berhasil menembus jantung peradaban besar dunia pada masanya: Mesir.
Lahir sebagai anak emas dalam pelukan Ya’qub, nasab Yusuf adalah silsilah emas yang tiada banding. Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam menyebutnya sebagai orang mulia anak orang mulia anak orang mulia anak orang mulia. Sebagaimana tercantum dalam hadis riwayat Bukhari, nasabnya merentang dari Ya’qub bin Ishaq hingga Ibrahim sang Khalilullah. Namun, kemuliaan darah ini tidak membebaskannya dari hukum besi ujian kehidupan.
Perjalanan Yusuf ke Mesir dimulai dari sebuah sumur gelap di tanah Kanaan, hasil konspirasi saudara-saudaranya. Kisah yang direkam indah dalam Surat Yusuf ini memperlihatkan bagaimana seorang calon nabi dijual sebagai komoditas murah di pasar budak Mesir. Ia dibeli oleh al-Aziz, seorang wazir tinggi, yang menjadi gerbang bagi Yusuf untuk mengenal struktur kekuasaan Mesir yang kala itu kental dengan praktik paganisme dan penyembahan tuhan-tuhan beragam (politeisme).
Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria dalam bukunya, Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang (1/355-374), memaparkan bahwa masa Yusuf di Mesir menandai periode baru dalam dakwah tauhid. Jika nabi-nabi sebelumnya lebih banyak bergerak di kawasan Palestina, Yusuf membawa risalah tersebut ke pusat peradaban materialistik. Di sana, ia menghadapi ujian integritas yang paling mengerikan ketika dirayu oleh istri tuanya. Penolakan Yusuf yang legendaris, sebagaimana terekam dalam Yusuf ayat 23:
قال معاذ الله إنه ربي أحسن مثواي إنه لا يفلح الظالمون
Yusuf berkata: Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. [Yusuf/12: 23].
Keteguhan ini membawanya ke penjara, namun justru di sanalah panggung dakwahnya benar-benar dimulai. Mayoritas ulama sejarah, termasuk Ibnu Katsir dalam Qishashul Anbiya, cenderung berpendapat bahwa pengangkatan resmi Yusuf sebagai rasul terjadi saat beliau berada di balik jeruji besi. Hal ini terindikasi dari cara beliau mendakwahi dua pemuda penghuni penjara. Sebelum menafsirkan mimpi mereka, Yusuf melakukan dekonstruksi terhadap kepercayaan pagan mereka.
Lahir sebagai anak emas dalam pelukan Ya’qub, nasab Yusuf adalah silsilah emas yang tiada banding. Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam menyebutnya sebagai orang mulia anak orang mulia anak orang mulia anak orang mulia. Sebagaimana tercantum dalam hadis riwayat Bukhari, nasabnya merentang dari Ya’qub bin Ishaq hingga Ibrahim sang Khalilullah. Namun, kemuliaan darah ini tidak membebaskannya dari hukum besi ujian kehidupan.
Perjalanan Yusuf ke Mesir dimulai dari sebuah sumur gelap di tanah Kanaan, hasil konspirasi saudara-saudaranya. Kisah yang direkam indah dalam Surat Yusuf ini memperlihatkan bagaimana seorang calon nabi dijual sebagai komoditas murah di pasar budak Mesir. Ia dibeli oleh al-Aziz, seorang wazir tinggi, yang menjadi gerbang bagi Yusuf untuk mengenal struktur kekuasaan Mesir yang kala itu kental dengan praktik paganisme dan penyembahan tuhan-tuhan beragam (politeisme).
Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria dalam bukunya, Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang (1/355-374), memaparkan bahwa masa Yusuf di Mesir menandai periode baru dalam dakwah tauhid. Jika nabi-nabi sebelumnya lebih banyak bergerak di kawasan Palestina, Yusuf membawa risalah tersebut ke pusat peradaban materialistik. Di sana, ia menghadapi ujian integritas yang paling mengerikan ketika dirayu oleh istri tuanya. Penolakan Yusuf yang legendaris, sebagaimana terekam dalam Yusuf ayat 23:
قال معاذ الله إنه ربي أحسن مثواي إنه لا يفلح الظالمون
Yusuf berkata: Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. [Yusuf/12: 23].
Keteguhan ini membawanya ke penjara, namun justru di sanalah panggung dakwahnya benar-benar dimulai. Mayoritas ulama sejarah, termasuk Ibnu Katsir dalam Qishashul Anbiya, cenderung berpendapat bahwa pengangkatan resmi Yusuf sebagai rasul terjadi saat beliau berada di balik jeruji besi. Hal ini terindikasi dari cara beliau mendakwahi dua pemuda penghuni penjara. Sebelum menafsirkan mimpi mereka, Yusuf melakukan dekonstruksi terhadap kepercayaan pagan mereka.