Melawan Ta'ashshub: Mengapa Fanatisme Mazhab Dilarang oleh Para Imam Sendiri?
Miftah yusufpati
Kamis, 16 April 2026 - 16:49 WIB
Keberagaman pendapat di antara para imam seharusnya menjadi rahmat yang memudahkan, bukan jeruji yang membelenggu nalar. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam sejarah pemikiran Islam, keberadaan empat imam mazhab besar—Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal—adalah anugerah intelektual yang merapikan jalan umat memahami wahyu. Namun, seiring berjalannya waktu, apresiasi ilmiah sering kali bergeser menjadi fanatisme buta atau ta’ashshub. Fenomena ini menciptakan sekat-sekat imajiner di mana pengikut satu mazhab merasa haram melirik kebenaran di madzhab lain, sebuah sikap yang justru ditentang keras oleh para imam itu sendiri.
Satu kutipan legendaris dari Imam Malik rahimahullah menjadi fondasi utama dalam meruntuhkan tembok fanatisme ini. Sambil menunjuk ke arah makam Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beliau berkata bahwa setiap orang bisa diambil perkataannya dan ditolak, kecuali penghuni kuburan tersebut. Ucapan ini merupakan deklarasi bahwa otoritas kebenaran mutlak hanya milik Rasulullah, sementara para ulama, sehebat apa pun mereka, tetaplah manusia yang bisa terjatuh dalam kekeliruan.
Syaikh Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili dalam sebuah pengamatannya mencatat keunikan masing-masing imam. Malik dan Ahmad unggul dalam hadis, Asy-Syafi’i dalam bahasa dan usul fiqih, sementara Abu Hanifah dalam logika dan kiyas. Ar-Ruhaili berargumen bahwa mereka yang bersikap terbuka dan memilih pendapat terkuat (rajih) dari keempatnya justru akan mendapatkan akumulasi kelebihan yang diberikan Allah kepada masing-masing imam tersebut.
Kewajiban utama seorang Muslim bukanlah fanatik pada sosok, melainkan pada dalil. Al-Quran telah memberikan garis tegas dalam Surah Al-A’raf ayat 3:
اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran.
Ironinya, para imam mazhab sendiri adalah pejuang pertama yang menolak pengultusan atas pendapat mereka. Imam Syafi’i, misalnya, dengan tegas berwasiat agar jika ditemukan hadis yang shahih, maka umat harus mengikuti hadis tersebut dan melemparkan pendapat pribadinya ke dinding jika terbukti berselisih. Sikap rendah hati ini menunjukkan bahwa mazhab hanyalah alat bantu untuk memahami agama, bukan agama itu sendiri.
Satu kutipan legendaris dari Imam Malik rahimahullah menjadi fondasi utama dalam meruntuhkan tembok fanatisme ini. Sambil menunjuk ke arah makam Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beliau berkata bahwa setiap orang bisa diambil perkataannya dan ditolak, kecuali penghuni kuburan tersebut. Ucapan ini merupakan deklarasi bahwa otoritas kebenaran mutlak hanya milik Rasulullah, sementara para ulama, sehebat apa pun mereka, tetaplah manusia yang bisa terjatuh dalam kekeliruan.
Syaikh Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili dalam sebuah pengamatannya mencatat keunikan masing-masing imam. Malik dan Ahmad unggul dalam hadis, Asy-Syafi’i dalam bahasa dan usul fiqih, sementara Abu Hanifah dalam logika dan kiyas. Ar-Ruhaili berargumen bahwa mereka yang bersikap terbuka dan memilih pendapat terkuat (rajih) dari keempatnya justru akan mendapatkan akumulasi kelebihan yang diberikan Allah kepada masing-masing imam tersebut.
Kewajiban utama seorang Muslim bukanlah fanatik pada sosok, melainkan pada dalil. Al-Quran telah memberikan garis tegas dalam Surah Al-A’raf ayat 3:
اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran.
Ironinya, para imam mazhab sendiri adalah pejuang pertama yang menolak pengultusan atas pendapat mereka. Imam Syafi’i, misalnya, dengan tegas berwasiat agar jika ditemukan hadis yang shahih, maka umat harus mengikuti hadis tersebut dan melemparkan pendapat pribadinya ke dinding jika terbukti berselisih. Sikap rendah hati ini menunjukkan bahwa mazhab hanyalah alat bantu untuk memahami agama, bukan agama itu sendiri.