home masjid

Tafsir Ayat Sifat: Penjelasan Imam Syafi’i Mengenai Dua Tangan Allah

Senin, 20 April 2026 - 04:00 WIB
Sifat tangan bagi Allah, dalam kacamata Imam Syafii, adalah simbol kedermawanan-Nya yang melimpah dan kekuasaan-Nya yang mutlak. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID - Dalam diskursus teologi Islam yang panjang, sosok Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau Imam Syafi’i sering kali diletakkan sebagai tokoh sentral yang menjembatani antara tradisi ahli hadis dan ahli nalar. Namun, di balik kejeniusannya membedah hukum, Imam Syafi’i memiliki ketegasan yang tak tergoyahkan dalam urusan akidah, terutama menyangkut sifat-sifat Allah yang bersifat khabariyah atau yang bersumber dari berita wahyu. Salah satu isu yang paling sensitif dan mendalam adalah pemahamannya mengenai sifat tangan bagi Allah.

Bagi Imam Syafi’i, berbicara tentang Zat Allah menuntut integritas moral untuk tidak melampaui apa yang telah dinyatakan oleh Sang Pencipta sendiri. Dalam naskah klasik yang menjadi rujukan Madzhab Syafi’i, sang Imam menekankan bahwa Allah memiliki dua tangan. Dasar yang digunakannya bukan sekadar logika, melainkan hantaman argumentasi Al-Quran dalam surat Al-Maidah ayat 64:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

Orang-orang Yahudi berkata: Tangan Allah terbelenggu, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. Tidak demikian, tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.

Argumentasi Imam Syafi’i ini menempatkan teks sebagai otoritas tertinggi. Sebagaimana dicatat oleh Wael B. Hallaq dalam buku A History of Islamic Law Theories (1997), metodologi Imam Syafi’i selalu berupaya menjaga kemurnian pesan wahyu dari distorsi penafsiran yang terlalu bebas.

Dengan menetapkan kedua tangan Allah sebagaimana teks menyebutnya, Imam Syafi’i sedang menolak klaim kaum rasionalis yang sering kali mereduksi makna tangan semata-mata menjadi kekuasaan atau nikmat. Lebih spesifik lagi, Imam Syafi’i juga merujuk pada sifat tangan kanan Allah, sebuah diksi yang menuntut keimanan tanpa harus terjatuh pada penggambaran fisik (tajsim). Beliau bersandar pada surat Az-Zumar ayat 67:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya