home masjid

Imam Ahmad bin Hanbal: Imam Syafi’i Adalah Matahari bagi Dunia

Selasa, 21 April 2026 - 03:30 WIB
Imam Syafii bukan sekadar nama besar dalam sejarah, melainkan poros yang mengubah cara umat Islam memahami agamanya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam panggung sejarah pemikiran Islam, jarang ada tokoh yang mendapatkan pengakuan lintas madzhab sesolid Muhammad bin Idris al-Syafi’i. Jika fikih diibaratkan sebagai sebuah bangunan yang megah, maka para ulama sezamannya sepakat bahwa Imam Syafi’i adalah arsitek yang menyediakan cetak biru paling presisi. Melalui kesaksian para raksasa ilmu, kita melihat potret seorang ulama yang kehadirannya dianggap sebagai anugerah ilahi bagi umat manusia.

Salah satu testimoni paling menyentuh datang dari Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri Madzhab Hanbali yang juga merupakan murid sekaligus pengagum berat Imam Syafi’i. Dalam catatan Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi melalui risalah Mawafiq Muatstsirah min Siratil Imamis Syafi’i (2014), Imam Ahmad menyebutkan bahwa setiap orang yang memegang pena untuk menulis ilmu, sejatinya berhutang budi pada pundak Imam Syafi’i. Sebelum kedatangan sang Imam, fikih hadits seolah-olah menjadi ruang gelap yang terkunci rapat. Lewat tangan dingin Imam Syafi’i, gembok itu terbuka.

Metafora yang digunakan Imam Ahmad untuk menggambarkan sosok gurunya sangatlah puitis namun sarat makna. Saat ditanya oleh putranya mengenai jati diri Imam Syafi’i, ia menjawab bahwa Imam Syafi’i adalah matahari bagi dunia dan obat bagi tubuh. Sebuah penggambaran yang menurut Christopher Melchert dalam buku The Formation of the Sunni Schools of Law (1997), menunjukkan posisi Imam Syafi’i sebagai pusat gravitasi ilmu pengetahuan yang menyinari dan menyembuhkan kekisruhan pemikiran hukum di abad kedua Hijriah.

Kesetiaan Imam Ahmad bukan sekadar kata-kata. Beliau mengaku mendoakan Imam Syafi’i dalam setiap shalatnya selama empat puluh tahun. Bahkan, Imam Ahmad meyakini bahwa Imam Syafi’i adalah sosok mujaddid atau pembaharu yang dimaksud dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

Sesungguhnya Allah mengutus bagi umat ini pada setiap penghujung seratus tahun seseorang yang akan memperbaharui agamanya. (HR. Abu Dawud no. 4291).

Jika Umar bin Abdul Aziz dianggap sebagai pembaharu pada abad pertama, maka bagi Imam Ahmad, Imam Syafi’i adalah pemegang tongkat estafet pembaharu pada abad kedua.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya