home masjid

Kedermawanan Imam Syafi’i: Sedekahkan Seluruh Bekal Sebelum Masuk Makkah

Selasa, 21 April 2026 - 15:30 WIB
mam Syafii adalah antitesis dari cendekiawan yang hanya duduk di menara gading. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam galaksi pemikiran Islam, Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau Imam Syafi’i adalah bintang paling terang yang menyatukan antara kecemerlangan otak dan kemuliaan karakter. Di mata para murid dan sejawatnya, sang Imam bukan sekadar ahli hukum yang berkutat pada diktum-diktum kaku, melainkan pribadi yang kesempurnaan akalnya dianggap melampaui rata-rata penduduk bumi.

Dalam risalah Mawafiq Muatstsirah min Siratil Imamis Syafi’i (2014) karya Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi disebutkankegeniusan Imam Syafi’i diakui secara luas oleh para otoritas ilmu. Imam Dzahabi, dalam kompilasi sejarahnya yang masyhur, Siyar Alam al-Nubala, menegaskan bahwa mencintai sang Imam adalah sebuah keniscayaan karena kesempurnaan ilmu yang ia miliki di zamannya.

Pujian ini bukan sekadar glorifikasi, melainkan pengakuan objektif terhadap sosok yang mampu mensintesiskan berbagai disiplin ilmu dengan fasih. Rabi bin Sulaiman, murid kepercayaannya, bahkan membuat perbandingan yang berani: jika kepandaian Imam Syafi’i ditimbang dengan setengah akal penduduk bumi, niscaya akal sang Imam tetap lebih berat.

Namun, di balik jubah kegeniusan itu, tersembunyi kerendahan hati yang luar biasa. Imam Syafi’i pernah berujar tentang filosofi kedudukan manusia. Beliau mengatakan bahwa orang yang posisinya paling tinggi adalah mereka yang justru tidak merasa memiliki kedudukan tersebut, dan orang yang paling utama adalah mereka yang tidak melirik pada keutamaan dirinya sendiri. Pernyataan ini menunjukkan bahwa bagi Imam Syafi’i, ilmu harus melahirkan ketulusan, bukan narsisme intelektual.

Dimensi lain yang membuat profil Imam Syafi’i begitu legendaris adalah kedermawanannya yang hampir-hampir tidak masuk akal bagi ukuran ekonomi modern. Al-Humaidi mengisahkan sebuah fragmen hidup sang Imam saat kembali dari Yaman membawa dua puluh ribu dinar. Sebelum masuk ke jantung kota Makkah, beliau mendirikan kemah di pinggiran kota. Belum lagi kemah itu berdiri tegak, seluruh uang tersebut sudah habis disedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Kecenderungan ini sering kali membuat para sahabatnya cemas. Abu Tsaur, salah satu orang terdekatnya, pernah menyarankan agar sang Imam membeli ladang untuk masa depan anak-anaknya. Namun, Imam Syafi’i memiliki logika kesejahteraan yang berbeda. Alih-alih membeli tanah pribadi, beliau justru membangun sebuah kemah besar di Mina. Tujuannya jelas: agar saudara-saudaranya sesama muslim yang menunaikan ibadah haji memiliki tempat bernaung secara cuma-muma.

George Makdisi dalam The Rise of Colleges (1981) mencatat bahwa tindakan ini mencerminkan etos filantropi Islam awal yang lebih mendahulukan fasilitas publik daripada akumulasi kekayaan privat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya