home edukasi & pesantren

Dari Limbah ke Nilai Tambah: Guru Besar UNEJ Dorong Hilirisasi Kelapa di Nias

Rabu, 22 April 2026 - 19:06 WIB
Dari Limbah ke Nilai Tambah: Guru Besar UNEJ Dorong Hilirisasi Kelapa di Nias
LANGIT7.ID-Jember; Universitas Jember (UNEJ) meluaskan manfaatnya. Kali ini menjangkau 2.000 kilometer dari Kampus Tegalboto. Melalui upaya hilirisasi kelapa menjangkau Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Di wilayah yang selama ini dikenal dengan potensi kelapanya, limbah yang kerap terabaikan mulai didorong menjadi sumber energi dan produk bernilai ekonomi.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang didanai Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) dan dilaksanakan pada 7-9 April 2026 lalu di Hotel Kaliki, Gunungsitoli, bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Dalam kegiatan ini, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UNEJ, Prof. Dr. Ir. Soni Sisbudi Harsono, M.Eng., M.Phil., memperkenalkan pendekatan ekonomi sirkular sebagai strategi untuk menahan nilai tambah tetap berada di tingkat lokal.

“Nias memiliki potensi besar pada kelapa. Bayangkan jika satu rumah punya 10 pohon, dan ada sekitar 3.000 rumah, berarti ada kurang lebih 300.000 pohon kelapa. Selama ini limbahnya terbuang begitu saja, padahal di situlah sebenarnya peluang nilai tambahnya,” jelas Prof. Soni dalam keterangan resmi, Rabu (22/4/2026).

Selama ini, petani di Nias terjebak dalam pola penjualan buah mentah yang nilai ekonominya rendah. Mengubah mindset masyarakat nyatanya bukan hal mudah. Pada hari pertama, Prof. Soni mengakui adanya pesimisme dari warga.

“Saya menyadari mereka tidak mau banyak teori atau 'omon-omon'. Begitu masuk sesi praktik, antusiasme mereka langsung naik. Begitu masuk sesi praktik, antusiasme mereka langsung melonjak. Mereka belajar mengolah tempurung, sabut, hingga memproduksi cocopeat untuk media tanam urban farming seperti stroberi dan anggrek," ungkapnya.

Teknologi tepat guna yang diperkenalkan mencakup spektrum luas, mulai dari pemanfaatan daging kelapa sebagai bahan bakar alternatif kapal nelayan hingga produk inovatif Briket Wangi. Briket ini dirancang khusus dengan aroma seperti lavender untuk memberikan nilai tambah fungsional sebagai pengusir nyamuk, yang cocok digunakan untuk keperluan kesehatan maupun industri jasa seperti spa.

"Briket wangi itu saat dibakar sudah mengeluarkan aroma, misalnya dicampur lavender agar aromanya bisa mengusir nyamuk. Sistemnya bukan seperti arang biasa, tapi lebih seperti obat nyamuk bakar untuk keperluan ruangan, spa, atau kesehatan," jelas Prof. Soni. Inovasi briket level atas ini diharapkan dapat mendongkrak ekonomi masyarakat pesisir Nias.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya