Untaian Doa dan Lelah Orang Tua di Balik UTBK Universitas Brawijaya 2026
Dwi sasongko
Rabu, 22 April 2026 - 19:09 WIB
Untaian Doa dan Lelah Orang Tua di Balik UTBK Universitas Brawijaya 2026
LANGIT7.ID-Malang; Di antara ribuan peserta yang melangkah tegap membawa map berisi kartu ujian di Universitas Brawijaya Malang Jawa Timur, ada pemandangan lain yang tak kalah menyentuh: deretan orang tua yang berdiri di tepi jalan, duduk di selasar gedung, hingga yang sekadar menyandar di kursi taman.
Bagi mereka, hari pertama Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 bukan sekadar ujian tulis bagi sang buah hati, melainkan sebuah pertaruhan harapan yang diperjuangkan dengan peluh dan doa.
Zamzam, seorang Ayah asal Kediri ini menempuh perjalanan panjang dengan sepeda motor demi mengantar putranya, Sultan. Demi momen ini, Zamzam rela menanggalkan seragam kantornya dan mengambil cuti dua hari.
”Saya berangkat dari Kediri kemarin, menginap di daerah Bukit Cemara Tujuh,” kisahnya. Baginya, menempuh puluhan kilometer dengan roda dua adalah bentuk dukungan paling nyata yang bisa ia berikan
“Ini tentang masa depan anak. Saya hanya ingin dia tahu bahwa ayahnya ada di sini, mendukung mimpinya sampai jadi nyata,” kata Zam zam.
Pemandangan berbeda terlihat di depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Pasangan suami istri, Sulastri dan Sunardi, tampak duduk tenang namun raut wajah mereka tak bisa menyembunyikan kecemasan. Mereka datang jauh-jauh dari Probolinggo sejak pukul 03.00 dini hari.
Tahun ini adalah babak kedua bagi putra mereka, Fahat, yang sempat gagal di UTBK tahun lalu.
Bagi mereka, hari pertama Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 bukan sekadar ujian tulis bagi sang buah hati, melainkan sebuah pertaruhan harapan yang diperjuangkan dengan peluh dan doa.
Zamzam, seorang Ayah asal Kediri ini menempuh perjalanan panjang dengan sepeda motor demi mengantar putranya, Sultan. Demi momen ini, Zamzam rela menanggalkan seragam kantornya dan mengambil cuti dua hari.
”Saya berangkat dari Kediri kemarin, menginap di daerah Bukit Cemara Tujuh,” kisahnya. Baginya, menempuh puluhan kilometer dengan roda dua adalah bentuk dukungan paling nyata yang bisa ia berikan
“Ini tentang masa depan anak. Saya hanya ingin dia tahu bahwa ayahnya ada di sini, mendukung mimpinya sampai jadi nyata,” kata Zam zam.
Pemandangan berbeda terlihat di depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Pasangan suami istri, Sulastri dan Sunardi, tampak duduk tenang namun raut wajah mereka tak bisa menyembunyikan kecemasan. Mereka datang jauh-jauh dari Probolinggo sejak pukul 03.00 dini hari.
Tahun ini adalah babak kedua bagi putra mereka, Fahat, yang sempat gagal di UTBK tahun lalu.