Menag Nasaruddin Tegaskan Ekonomi Halal Harus Berakar pada Kepercayaan dan Nilai Spiritual
Tim langit 7
Jum'at, 24 April 2026 - 05:10 WIB
Menag Nasaruddin Tegaskan Ekonomi Halal Harus Berakar pada Kepercayaan dan Nilai Spiritual
LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Agama menegaskan peran strategis sebagai penjaga nilai dalam penguatan ekosistem ekonomi halal dan pengembangan ekonomi syariah sebagai pilar penting pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Hal itu disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam forum diskusi dan halal bihalal B57+ Asia Pacific Regional Chapter.
Menag menekankan bahwa momentum ini tidak sekadar seremoni, tetapi menjadi ruang strategis untuk mentransformasikan ukhuwah keagamaan menjadi kekuatan ekonomi bersama.
“Momentum ini bukan sekadar seremoni, tetapi manifestasi dari ukhuwah Islamiyah yang kita transformasikan menjadi ukhuwah iqtisadiyah, persaudaraan ekonomi demi kemaslahatan umat,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (24/4/2026).
Menag menegaskan bahwa ekonomi halal dan ekonomi syariah tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai spiritualitas yang menjadi fondasi utama kepercayaan dalam sistem ekonomi global. Dalam konteks ini, Kementerian Agama mengambil posisi sebagai penjaga nilai (guardian of values) sekaligus mitra strategis dalam memastikan kredibilitas ekosistem halal.
“Ekonomi yang berkelanjutan harus berakar pada kepercayaan. Nilai-nilai spiritual yang kita jaga terbukti berkorelasi positif dengan kredibilitas ekonomi kita,” katanya.
Ia mengutip tren global yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap ekosistem halal dunia, dengan Indonesia tetap berada di posisi tiga besar global dan berpotensi menjadi yang terdepan. Menurutnya, hal ini menjadi peluang sekaligus tanggung jawab untuk memperkuat peran Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia.
Lebih lanjut, Menag menyoroti keunggulan sistem ekonomi syariah yang berbasis prinsip etika dan keadilan, seperti skema bagi hasil (mudharabah dan musyarakah), larangan riba, serta keterkaitan dengan aset riil. Prinsip-prinsip ini dinilai memberikan ketahanan struktural yang lebih kuat dibanding sistem konvensional, terutama dalam menghadapi krisis global.
Menag menekankan bahwa momentum ini tidak sekadar seremoni, tetapi menjadi ruang strategis untuk mentransformasikan ukhuwah keagamaan menjadi kekuatan ekonomi bersama.
“Momentum ini bukan sekadar seremoni, tetapi manifestasi dari ukhuwah Islamiyah yang kita transformasikan menjadi ukhuwah iqtisadiyah, persaudaraan ekonomi demi kemaslahatan umat,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (24/4/2026).
Menag menegaskan bahwa ekonomi halal dan ekonomi syariah tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai spiritualitas yang menjadi fondasi utama kepercayaan dalam sistem ekonomi global. Dalam konteks ini, Kementerian Agama mengambil posisi sebagai penjaga nilai (guardian of values) sekaligus mitra strategis dalam memastikan kredibilitas ekosistem halal.
“Ekonomi yang berkelanjutan harus berakar pada kepercayaan. Nilai-nilai spiritual yang kita jaga terbukti berkorelasi positif dengan kredibilitas ekonomi kita,” katanya.
Ia mengutip tren global yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap ekosistem halal dunia, dengan Indonesia tetap berada di posisi tiga besar global dan berpotensi menjadi yang terdepan. Menurutnya, hal ini menjadi peluang sekaligus tanggung jawab untuk memperkuat peran Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia.
Lebih lanjut, Menag menyoroti keunggulan sistem ekonomi syariah yang berbasis prinsip etika dan keadilan, seperti skema bagi hasil (mudharabah dan musyarakah), larangan riba, serta keterkaitan dengan aset riil. Prinsip-prinsip ini dinilai memberikan ketahanan struktural yang lebih kuat dibanding sistem konvensional, terutama dalam menghadapi krisis global.