Ancaman Dai Penyesat: Hudzaifah bin Al-Yaman dan Peringatan Munculnya Fitnah Akhir Zaman
Miftah yusufpati
Jum'at, 24 April 2026 - 05:24 WIB
Nubuat Hudzaifah bukan sekadar ramalan apokaliptik, melainkan peringatan manajerial bagi umat agar tidak tertipu oleh kefasihan lisan dan kesamaan etnis. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam sejarah literatur Islam, Hudzaifah bin Al-Yaman dikenal sebagai pemegang rahasia Nabi yang memiliki kecenderungan unik: ia lebih tertarik bertanya tentang keburukan daripada kebaikan. Di saat sahabat lain sibuk mengejar kabar surga, Hudzaifah justru menyelidiki peta labirin neraka. Alasannya pragmatis namun mendalam; ia ingin menjauhinya sebelum terjerumus. Intuisi Hudzaifah inilah yang kemudian melahirkan salah satu nubuat paling menggetarkan dalam tradisi hadits: munculnya para dai di pintu-pintu neraka Jahanam.
Kitab Al-Qaulul Mubin Fii Jama’atil Muslimin karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilali menyingkap dialog krusial tersebut. Hudzaifah bertanya tentang suksesi kebaikan dan keburukan setelah datangnya Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab bahwa setelah kebaikan akan ada masa kelam, lalu ada masa kebaikan yang mengandung asap (dakhan). Ketika ditanya apa asap itu, Nabi menggambarkan sosok kaum yang membawa ajaran bukan dari Sunnah dan menunjukkan jalan selain petunjuk beliau.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah fase berikutnya. Nabi memperingatkan akan munculnya:
دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا
Para dai yang menyeru ke neraka Jahanam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka.
Ciri-ciri mereka sangat "akrab" secara sosiologis. Nabi menyebut mereka sebagai qaumun min jildatina wa yatakallamuna bi alsinatina—mereka berasal dari golongan atau kulit kita sendiri dan berbicara dengan bahasa kita. Secara interpretatif, ini adalah peringatan tentang musuh dalam selimut. Mereka bukan orang asing dengan wajah berbeda, melainkan figur yang tampak saleh, fasih berdalil, dan memiliki identitas budaya yang sama dengan umat.
Mengapa fenomena ini terjadi? Syaikh Salim al-Hilali menjelaskan bahwa mengenal jalan orang-orang yang tersesat merupakan kewajiban syariat. Allah berfirman dalam surat Al-An'am ayat 55 bahwa ayat-ayat diturunkan agar jelas pula jalan orang-orang yang berdosa (sabilul mujrimin). Tanpa pemetaan terhadap kebatilan, kebenaran akan mudah dipalsukan. Pakar sejarah Islam seperti Ibn Khaldun dalam Muqaddimah sering menekankan bahwa kehancuran sebuah peradaban sering kali dimulai dari kerancuan berpikir para intelektualnya. Dalam konteks ini, para dai penyesat adalah arsitek kebingungan tersebut.
Kitab Al-Qaulul Mubin Fii Jama’atil Muslimin karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilali menyingkap dialog krusial tersebut. Hudzaifah bertanya tentang suksesi kebaikan dan keburukan setelah datangnya Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab bahwa setelah kebaikan akan ada masa kelam, lalu ada masa kebaikan yang mengandung asap (dakhan). Ketika ditanya apa asap itu, Nabi menggambarkan sosok kaum yang membawa ajaran bukan dari Sunnah dan menunjukkan jalan selain petunjuk beliau.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah fase berikutnya. Nabi memperingatkan akan munculnya:
دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا
Para dai yang menyeru ke neraka Jahanam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka.
Ciri-ciri mereka sangat "akrab" secara sosiologis. Nabi menyebut mereka sebagai qaumun min jildatina wa yatakallamuna bi alsinatina—mereka berasal dari golongan atau kulit kita sendiri dan berbicara dengan bahasa kita. Secara interpretatif, ini adalah peringatan tentang musuh dalam selimut. Mereka bukan orang asing dengan wajah berbeda, melainkan figur yang tampak saleh, fasih berdalil, dan memiliki identitas budaya yang sama dengan umat.
Mengapa fenomena ini terjadi? Syaikh Salim al-Hilali menjelaskan bahwa mengenal jalan orang-orang yang tersesat merupakan kewajiban syariat. Allah berfirman dalam surat Al-An'am ayat 55 bahwa ayat-ayat diturunkan agar jelas pula jalan orang-orang yang berdosa (sabilul mujrimin). Tanpa pemetaan terhadap kebatilan, kebenaran akan mudah dipalsukan. Pakar sejarah Islam seperti Ibn Khaldun dalam Muqaddimah sering menekankan bahwa kehancuran sebuah peradaban sering kali dimulai dari kerancuan berpikir para intelektualnya. Dalam konteks ini, para dai penyesat adalah arsitek kebingungan tersebut.