LANGIT7.ID-Dalam sejarah literatur Islam, Hudzaifah bin Al-Yaman dikenal sebagai pemegang rahasia Nabi yang memiliki kecenderungan unik: ia lebih tertarik bertanya tentang keburukan daripada kebaikan. Di saat sahabat lain sibuk mengejar kabar surga, Hudzaifah justru menyelidiki peta labirin neraka. Alasannya pragmatis namun mendalam; ia ingin menjauhinya sebelum terjerumus. Intuisi Hudzaifah inilah yang kemudian melahirkan salah satu nubuat paling menggetarkan dalam tradisi hadits: munculnya para dai di pintu-pintu neraka Jahanam.
Kitab
Al-Qaulul Mubin Fii Jama’atil Muslimin karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilali menyingkap dialog krusial tersebut. Hudzaifah bertanya tentang suksesi kebaikan dan keburukan setelah datangnya Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab bahwa setelah kebaikan akan ada masa kelam, lalu ada masa kebaikan yang mengandung asap (dakhan). Ketika ditanya apa asap itu, Nabi menggambarkan sosok kaum yang membawa ajaran bukan dari Sunnah dan menunjukkan jalan selain petunjuk beliau.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah fase berikutnya. Nabi memperingatkan akan munculnya:
دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَاPara dai yang menyeru ke neraka Jahanam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka.Ciri-ciri mereka sangat "akrab" secara sosiologis. Nabi menyebut mereka sebagai
qaumun min jildatina wa yatakallamuna bi alsinatina—mereka berasal dari golongan atau kulit kita sendiri dan berbicara dengan bahasa kita. Secara interpretatif, ini adalah peringatan tentang musuh dalam selimut. Mereka bukan orang asing dengan wajah berbeda, melainkan figur yang tampak saleh, fasih berdalil, dan memiliki identitas budaya yang sama dengan umat.
Mengapa fenomena ini terjadi? Syaikh Salim al-Hilali menjelaskan bahwa mengenal jalan orang-orang yang tersesat merupakan kewajiban syariat. Allah berfirman dalam surat Al-An'am ayat 55 bahwa ayat-ayat diturunkan agar jelas pula jalan orang-orang yang berdosa (
sabilul mujrimin). Tanpa pemetaan terhadap kebatilan, kebenaran akan mudah dipalsukan. Pakar sejarah Islam seperti Ibn Khaldun dalam Muqaddimah sering menekankan bahwa kehancuran sebuah peradaban sering kali dimulai dari kerancuan berpikir para intelektualnya. Dalam konteks ini, para dai penyesat adalah arsitek kebingungan tersebut.
Strategi yang ditawarkan Rasulullah dalam menghadapi kekacauan ini sangat tegas. Hudzaifah diperintahkan untuk memegang erat jamaah kaum muslimin dan pemimpin mereka. Namun, jika jamaah dan imam tersebut sudah tidak ada karena perpecahan yang begitu hebat, solusinya adalah uzlah atau mengasingkan diri. Rasulullah memberikan tamsil yang ekstrem: fa'tazil tilka al-firaqa kullaha—tinggalkan semua kelompok sempalan itu, walaupun kau harus menggigit akar pohon hingga ajal menjemput.
Secara akademis, hadits ini sering dikaitkan dengan fenomena fitnah yang menyerupai malam yang gelap gulita. Dalam riwayat Ahmad, disebutkan fitnah ini datang seperti wajah-wajah sapi yang samar, sulit dibedakan antara yang benar dan yang hampir benar. Ketidakmampuan membedakan ini berakar pada hilangnya standar Sunnah sebagai kompas tunggal.
Naskah ini menegaskan bahwa bahaya terbesar bukanlah serangan dari luar, melainkan dekonstruksi ajaran dari dalam oleh mereka yang memiliki otoritas panggung. Seperti kata penyair yang dikutip dalam naskah: "Aku mengenal keburukan bukan untuk dilakukan, tapi untuk dijaga darinya. Siapa yang tidak mengenal kebaikan dari keburukan, ia akan jatuh ke dalamnya."
Kesimpulannya, nubuat Hudzaifah bukan sekadar ramalan apokaliptik, melainkan peringatan manajerial bagi umat agar tidak tertipu oleh kefasihan lisan dan kesamaan etnis. Di era di mana narasi agama bisa dikemas sedemikian rupa demi kepentingan kelompok atau ideologi menyimpang, menggigit akar pohon kebenaran jauh lebih mulia daripada bergabung dalam sorak-sorai yang menuju gerbang Jahanam. Ketaatan pada manhaj generasi pertama menjadi benteng terakhir sebelum arus fitnah menyeret siapa saja yang lengah.
(mif)