Dari Selat Hormuz Ke Negeri Sendiri: Memperkuat Ekonomi Umat Melalui Ekonomi Syariah untuk Ketahanan Ekonomi Nasional
Tim langit 7
Jum'at, 24 April 2026 - 08:18 WIB
Dari Selat Hormuz Ke Negeri Sendiri: Memperkuat Ekonomi Umat Melalui Ekonomi Syariah untuk Ketahanan Ekonomi Nasional
Oleh: Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag.
LANGIT7.ID-Pada 28 Februari 2026, dunia terbangun dengan kabar yang mengubah lanskap geopolitik secara dramatis. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dikenal sebagai Operasi 'Epic Fury' menyerang Iran, memicu respons retaliasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC): penutupan Selat Hormuz, urat nadi energi dunia. Selat selebar 33 kilometer itu adalah titik paling kritis dalam sistem perekonomian global setiap harinya sekitar 20 hingga 25 persen perdagangan minyak dunia melewatinya, setara dengan 20 hingga 21 juta barel per hari.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar berita dari jauh. APBN 2026 disusun berdasarkan asumsi harga minyak USD 70 per barel. Krisis Hormuz mendorong harga Brent melonjak ke kisaran USD 112 hingga 126 per barel. Simulasi CELIOS menunjukkan bahwa setiap kenaikan USD 1 per barel di atas asumsi APBN menambah beban belanja negara sekitar Rp 10,3 triliun. Pada skenario harga USD 150 per barel, tambahan beban subsidi energi bisa mencapai Rp 544 triliun. Nilai tukar rupiah pun melemah ke kisaran Rp 16.893 hingga 17.000 per dolar AS.
Yang lebih mengkhawatirkan: cadangan BBM nasional hanya cukup untuk sekitar 20 hari, jauh di bawah standar International Energy Agency yang merekomendasikan 90 hari.
Dampaknya meluas: harga LPG rumah tangga terancam naik, biaya logistik meledak karena premi asuransi kapal meroket, dan harga pupuk urea memukul petani menjelang musim tanam mengingat sepertiga perdagangan pupuk global pun melewati Hormuz. Asia Tenggara merasakan dampak paling berat karena sekitar 80 persen minyak yang melewati selat itu mengalir ke kawasan ini.
Akar Masalah: Fondasi Ekonomi yang Rapuh
LANGIT7.ID-Pada 28 Februari 2026, dunia terbangun dengan kabar yang mengubah lanskap geopolitik secara dramatis. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dikenal sebagai Operasi 'Epic Fury' menyerang Iran, memicu respons retaliasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC): penutupan Selat Hormuz, urat nadi energi dunia. Selat selebar 33 kilometer itu adalah titik paling kritis dalam sistem perekonomian global setiap harinya sekitar 20 hingga 25 persen perdagangan minyak dunia melewatinya, setara dengan 20 hingga 21 juta barel per hari.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar berita dari jauh. APBN 2026 disusun berdasarkan asumsi harga minyak USD 70 per barel. Krisis Hormuz mendorong harga Brent melonjak ke kisaran USD 112 hingga 126 per barel. Simulasi CELIOS menunjukkan bahwa setiap kenaikan USD 1 per barel di atas asumsi APBN menambah beban belanja negara sekitar Rp 10,3 triliun. Pada skenario harga USD 150 per barel, tambahan beban subsidi energi bisa mencapai Rp 544 triliun. Nilai tukar rupiah pun melemah ke kisaran Rp 16.893 hingga 17.000 per dolar AS.
Yang lebih mengkhawatirkan: cadangan BBM nasional hanya cukup untuk sekitar 20 hari, jauh di bawah standar International Energy Agency yang merekomendasikan 90 hari.
Dampaknya meluas: harga LPG rumah tangga terancam naik, biaya logistik meledak karena premi asuransi kapal meroket, dan harga pupuk urea memukul petani menjelang musim tanam mengingat sepertiga perdagangan pupuk global pun melewati Hormuz. Asia Tenggara merasakan dampak paling berat karena sekitar 80 persen minyak yang melewati selat itu mengalir ke kawasan ini.
Akar Masalah: Fondasi Ekonomi yang Rapuh