Kesaksian Ibnu Masud: Menelusuri Jejak Interaksi Rasulullah dengan Kaum Jin
Miftah yusufpati
Sabtu, 25 April 2026 - 04:00 WIB
Memahami alam jin melalui Sunnah adalah cara terbaik untuk menjaga akidah dari dua kutub ekstrem. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Malam itu di pinggiran Makkah, kecemasan menggelayuti para sahabat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendadak hilang dari rombongan. Pencarian di sela-sela lembah dan jalan setapak pegunungan nihil hasil. Muncul spekulasi kelam dalam benak mereka: apakah sang Nabi diculik jin atau dibunuh secara senyap? Ketakutan ini bukan tanpa alasan, sebab dalam lanskap sosiokultural Arab saat itu, interaksi dengan dimensi lain adalah hal yang dianggap mungkin, meski penuh misteri.
Kisah yang diriwayatkan Imam Muslim dari jalur Ibnu Masud ini menjadi salah satu pilar dalam memahami alam jin menurut kacamata As-Sunnah. Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqar dalam bukunya, Alam Al Jin Wa Asy Syayathin, menempatkan peristiwa ini sebagai bukti material bahwa jin bukan sekadar abstraksi. Ketika fajar menyingsing dan Nabi muncul dari arah Gua Hira, sebuah rahasia dimensi terungkap.
أتاني داعي الجن فذهبت معه فقرأت عليهم القرآن
Seorang utusan jin mendatangiku, maka aku pun pergi bersamanya (mendatangi para jin), lalu aku membacakan Al-Qur'an kepada mereka.
Kalimat pendek ini mengandung makna interpretatif yang mendalam. Rasulullah tidak hanya mengakui keberadaan mereka secara verbal, tetapi juga melakukan interaksi edukatif. Lebih jauh lagi, Nabi mengajak para sahabat melihat bukti fisik berupa bekas-bekas aktivitas mereka dan sisa api yang mereka gunakan. Ini adalah pesan kuat bagi mereka yang mencoba merasionalisasi jin sebagai sekadar energi abstrak atau penyakit mental. Ada jejak yang ditinggalkan, ada interaksi yang terjadi.
Gema dari peristiwa ini kemudian dirumuskan secara akademis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa. Beliau menegaskan bahwa keberadaan jin adalah masalah yang sudah mencapai derajat mutawatir—berita yang diriwayatkan oleh begitu banyak jalur sehingga mustahil untuk diingkari. Ibnu Taimiyah mengkritik keras kelompok seperti Jahmiyah dan Mutazilah yang mencoba mengingkari eksistensi jin atau menafsirkannya sebagai gejala-gejala yang menimpa manusia.
Bagi Ibnu Taimiyah, jin adalah makhluk yang hidup, berakal, memiliki kehendak, serta terikat oleh beban hukum berupa perintah dan larangan. Beliau menyebutkan bahwa mayoritas umat manusia, mulai dari kaum muslimin, Yahudi, Nasrani, hingga kaum kafir pada umumnya, mengakui keberadaan mereka. Menisbatkan diri kepada para rasul namun mengingkari adanya jin dianggap sebagai sebuah kontradiksi logis terhadap ajaran para nabi yang telah tersebar luas secara dharuri atau pasti.
Kisah yang diriwayatkan Imam Muslim dari jalur Ibnu Masud ini menjadi salah satu pilar dalam memahami alam jin menurut kacamata As-Sunnah. Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqar dalam bukunya, Alam Al Jin Wa Asy Syayathin, menempatkan peristiwa ini sebagai bukti material bahwa jin bukan sekadar abstraksi. Ketika fajar menyingsing dan Nabi muncul dari arah Gua Hira, sebuah rahasia dimensi terungkap.
أتاني داعي الجن فذهبت معه فقرأت عليهم القرآن
Seorang utusan jin mendatangiku, maka aku pun pergi bersamanya (mendatangi para jin), lalu aku membacakan Al-Qur'an kepada mereka.
Kalimat pendek ini mengandung makna interpretatif yang mendalam. Rasulullah tidak hanya mengakui keberadaan mereka secara verbal, tetapi juga melakukan interaksi edukatif. Lebih jauh lagi, Nabi mengajak para sahabat melihat bukti fisik berupa bekas-bekas aktivitas mereka dan sisa api yang mereka gunakan. Ini adalah pesan kuat bagi mereka yang mencoba merasionalisasi jin sebagai sekadar energi abstrak atau penyakit mental. Ada jejak yang ditinggalkan, ada interaksi yang terjadi.
Gema dari peristiwa ini kemudian dirumuskan secara akademis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa. Beliau menegaskan bahwa keberadaan jin adalah masalah yang sudah mencapai derajat mutawatir—berita yang diriwayatkan oleh begitu banyak jalur sehingga mustahil untuk diingkari. Ibnu Taimiyah mengkritik keras kelompok seperti Jahmiyah dan Mutazilah yang mencoba mengingkari eksistensi jin atau menafsirkannya sebagai gejala-gejala yang menimpa manusia.
Bagi Ibnu Taimiyah, jin adalah makhluk yang hidup, berakal, memiliki kehendak, serta terikat oleh beban hukum berupa perintah dan larangan. Beliau menyebutkan bahwa mayoritas umat manusia, mulai dari kaum muslimin, Yahudi, Nasrani, hingga kaum kafir pada umumnya, mengakui keberadaan mereka. Menisbatkan diri kepada para rasul namun mengingkari adanya jin dianggap sebagai sebuah kontradiksi logis terhadap ajaran para nabi yang telah tersebar luas secara dharuri atau pasti.