home masjid

Kisah Sajah bint Al-Harith: Siasat Persia Menyalakan Api Pemberontakan di Jazirah Arab

Selasa, 05 Mei 2026 - 03:30 WIB
Pada akhirnya, gerakan Sajah tidak mampu bertahan lama menghadapi ketegasan Khalifah Abu Bakar As-Siddiq. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di masa-masa awal kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq, stabilitas negara Islam yang baru saja kehilangan Rasulullah mendapat ujian berat. Salah satu episentrum ketegangan itu muncul ketika kabar wafatnya Nabi dimanfaatkan oleh berbagai faksi untuk memulihkan otonomi kesukuan dan menantang kekuasaan sentral di Madinah. Di tengah perpecahan internal Banu Tamim mengenai kewajiban zakat, muncul sosok perempuan dari wilayah utara Jazirah Arab yang membawa ancaman baru.

Dia adalah Sajah bint Al-Harith. Berdasarkan catatan dalam buku Abu Bakr As-Siddiq, Yang Lembut Hati karya Muhammad Husain Haekal, Sajah datang dari barat laut Mesopotamia, Irak. Namun, di balik kemunculannya sebagai peramal atau nabi perempuan, ada motif yang lebih dalam.

Beberapa sejarawan berpendapat bahwa kedatangan Sajah dari Irak utara ke Semenanjung Arab yang diikuti oleh orang-orangnya dan kabilah-kabilah sekitarnya, bukan sekadar karena kedukunannya atau ambisi pribadi semata.

Gerakan tersebut dicurigai sebagai dorongan dari pihak Persia dan pejabat-pejabatnya di Irak, supaya pemberontakan di Semenanjung Arab makin berkobar. Maksud utama dari operasi ini adalah untuk mengembalikan kekuasaan Persia di beberapa tempat yang sudah mulai menurun setelah Nabi Muhammad menempatkan Bazan sebagai wakilnya di Yaman, yang sebelum itu berstatus sebagai penguasa Kisra.

Dalam studi sejarah Islam, intervensi kekaisaran tetangga terhadap Jazirah Arab adalah fenomena yang wajar dalam politik internasional masa itu.

Menurut Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, Persia merasa terancam dengan pesatnya perkembangan Islam yang menyatukan bangsa-bangsa Arab. Agama baru ini tidak hanya menyatukan umat, tetapi juga telah memberikan penduduk setempat harga diri dan kemerdekaan berpikir, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dihargai oleh pihak Persia.

Persia memandang kawasan Arab sebagai wilayah yang dapat diperalat untuk memecah belah kekuatan sentral di Madinah. Adakalanya, seperti yang juga dibenarkan oleh sumber-sumber sejarah, Sajah adalah satu-satunya perempuan yang mendakwakan diri sebagai nabi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya