home masjid

Kisah Pertemuan Sajah dan Malik bin Nuwairah: Siasat Politik di Perbatasan Banu Yarbu

Selasa, 05 Mei 2026 - 04:00 WIB
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana dinamika antara Sajah dan Malik mencerminkan kerapuhan sistem politik kesukuan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Matahari di gurun pasir tidak hanya menyaksikan pergerakan pasukan, tetapi juga negosiasi yang mengubah arah sejarah. Setelah kabar wafatnya Nabi Muhammad tersebar, Semenanjung Arab dilanda gelombang pembangkangan dan kebingungan yang luar biasa. Di tengah situasi yang sangat rentan dan labil, Sajah bint Al-Harith memimpin pasukannya dan mendekati perbatasan Banu Yarbu. Kehadirannya di wilayah tersebut tidak lagi sekadar sebagai pengelana dari Irak, melainkan sebagai panglima perang dengan ambisi besar untuk menggoyahkan kekuasaan Islam di Madinah.

Berdasarkan catatan dalam buku Abu Bakr As-Siddiq, Yang Lembut Hati karya Muhammad Husain Haekal, Sajah kemudian memanggil Malik bin Nuwairah, seorang pemimpin terkemuka dari kabilah Banu Yarbu. Dalam pertemuan tersebut, Sajah menyampaikan rencananya untuk menyerbu Madinah. Namun, Malik merespons dengan tawaran yang tak terduga. Alih-alih menyerang pusat kekuasaan Islam yang baru lahir, Malik mengajak Sajah untuk mengalihkan sasaran kepada kabilah-kabilah lain di dalam lingkungan Banu Tamim itu sendiri yang tidak sejalan dengan pihak mereka.

Respons Sajah terhadap usulan Malik cukup mengejutkan. Ia menyetujui pendapat tersebut tanpa banyak pertimbangan yang rumit, bahkan menyatakan bahwa Malik dapat menjadi pemimpin atau raja bagi kaumnya. Meskipun sumber-sumber sejarah tidak meninggalkan catatan pasti mengenai alasan atau rahasia di balik perubahan arah yang cepat ini, karakter dan karisma pribadi Malik disebut-sebut memegang peranan yang sangat penting.

Malik bin Nuwairah dikenal luas sebagai sosok yang rupawan, seorang pahlawan, sekaligus penyair yang piawai merangkai kata dan bergaul. Sejarah mencatat bagaimana pesona dan tutur katanya yang memikat mampu meluluhkan hati musuh-musuhnya. Dalam literatur klasik, kisah tentang saudaranya, Mutammam bin Nuwairah, memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana keluarga ini menggunakan kecakapan komunikasi untuk menyelamatkan anggota keluarga mereka dari penawanan tanpa harus membayar tebusan.

Ketika Mutammam pernah ditawan oleh salah satu suku dan berita itu sampai kepada Malik, ia segera datang dengan kendaraannya. Setelah memberi salam, mengajak mereka berbincang, tertawa, dan membacakan syair-syair, para penawan merasa sangat senang dan membebaskan Mutammam tanpa tebusan. Demikian pula ketika Mutammam ditawan oleh Banu Taglib, wajah Malik yang tampan dan tutur kata yang menarik membuat tawanan tersebut dibebaskan tanpa syarat. Pesona semacam inilah yang diduga kuat meluluhkan hati Sajah.

Menurut sejarawan Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, pergulatan internal di dalam kabilah Arab sering kali didorong oleh kepentingan kesukuan atau ashabiyyah yang kental. Keputusan Malik untuk mengalihkan agresi Sajah ke dalam konflik internal Banu Tamim merupakan upaya untuk melindungi kabilahnya dari ancaman yang lebih besar, meskipun pada akhirnya langkah ini justru memicu perpecahan baru dan pertempuran berdarah.

Dalam situasi di mana fanatisme golongan mengaburkan kebenaran, Islam selalu mengajarkan pentingnya penyelesaian masalah melalui musyawarah dan menghindari pertumpahan darah antarsesama manusia. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 9 yang memberikan penunjuk tentang pentingnya mendamaikan pihak yang bersengketa:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya