Menelusuri Jejak Sufisme dalam Sastra dan Budaya Dunia
Kajian mengenai Sufisme, pada hakikatnya, tidak bisa hanya dilakukan melalui pendekatan tekstual semata. Sebagaimana dijelaskan oleh Idries Shah dalam karya Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat, kajian kesufian pada dasarnya disampaikan melalui metode-metode langsung, bahasa tubuh, simbol, dan peragaan. Ketika elemen-elemen langsung ini hilang dan peneliti hanya bergantung pada buku-buku atau naskah literal, mereka akan berada di bawah kendali para penulis yang mengembangkan teori-teori subyektif yang sering kali membelokkan esensi ajaran tersebut.
Para pengkaji yang kurang memahami dimensi esoteris ini sering kali mengklaim bahwa Sufisme lahir sebagai bentuk penyimpangan atau sekadar reaksi dari sejarah Islam. Tidak sedikit pula yang mengaitkannya dengan berbagai pengaruh eksternal tanpa melihat akar spiritualnya yang mendalam. Teori-teori ini menyebutkan bahwa tasawuf dipengaruhi oleh agama Kristen, dualisme Persia, filsafat Neoplatonisme, Buddhisme, hingga Shamanisme. Idries Shah mengibaratkan perdebatan tersebut layaknya orang yang memperdebatkan apakah besi berasal dari Swedia atau Jepang, sebuah analogi yang menunjukkan betapa dangkalnya perdebatan mengenai asal-usul geografis tersebut.
Hal ini sejalan dengan pandangan pakar studi Islam, Annemarie Schimmel, dalam bukunya yang berjudul Dimensi Mistis Islam. Schimmel menyatakan bahwa Sufisme adalah fenomena universal yang tidak dapat direduksi hanya pada satu pengaruh budaya atau agama tertentu. Sufisme adalah manifestasi dari pencarian batin manusia akan kebenaran mutlak yang melintasi batas-batas geografis dan zaman. Pencarian akan kebenaran ini juga ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah An-Nur ayat 35 tentang cahaya di atas cahaya:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاتٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allahu nurus samawati wal ardhi, matsalu nurihi kamisykah fiha mishbah, al-mishbahu fi zujajah, az-zujajah ka’annaha kaukabun durriyyun yuqadu min syajaratin mubarakatin zaitunatin la sharqiyatin wa la gharbiyatin yakadu zaituha yudi’u wa lau lam tamsashhu narun nurun ‘ala nur, yahdillahu linurihi man yasya’u wa yadribullahul amtsala linnas, wa Allahu bi kulli syay’in ‘alim.Artinya: Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Terkait dengan pelabelan, kita juga sering melihat adanya pergeseran makna dalam mendefinisikan Sufisme. Sebutan psikologi atau kebijaksanaan sering disematkan bukan karena istilah-istilah tersebut secara akurat menggambarkan Sufisme, melainkan karena ketiadaan kosakata yang lebih tepat dalam bahasa modern untuk menggambarkan kondisi ma'rifat.