Menbud Fadli Zon Dorong JAFF Jadi Etalase Film Indonesia di Kancah Global
Tim langit 7
Senin, 04 Mei 2026 - 21:29 WIB
Menbud Fadli Zon Dorong JAFF Jadi Etalase Film Indonesia di Kancah Global
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, gelar diskusi bersama sejumlah pemangku kepentingan di bidang film asal Yogyakarta yang tergabung dalam Yayasan Sinema Yogyakarta. Pertemuan yang berlangsung di kantor Kementerian Kebudayaan tersebut, membahas upaya penguatan peran Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), sebagai pasar film Indonesia bagi dunia film internasional.
Dalam diskusi tersebut, kedua pihak menyepakati untuk mendorong JAFF dalam menjaga konsistensi kehadirannya di berbagai festival internasional dan market film, untuk memperkuat posisi Indonesia dalam peta perfilman global. Kolaborasi dengan kementerian dinilai krusial guna memastikan kesinambungan, konsistensi, serta dukungan jejaring internasional. Ke depan, diharapkan paviliun internasional dalam JAFF Market dapat menjadi daya tarik utama bagi berbagai negara.
Momentum pertumbuhan industri film Indonesia turut menjadi perhatian utama. JAFF Market didorong untuk memanfaatkan perkembangan ini, termasuk meningkatnya minat kerja sama ko-produksi internasional. Salah satu indikasinya adalah ketertarikan Korea Selatan yang secara aktif mencari mitra, dan Indonesia menjadi salah satu tujuan utama.
Pada diskusi tersebut Menbud Fadli menyampaikan bahwa untuk tampil di dunia internasional perlu market atau platform yang stabil. Menurutnya saat ini pemerintah sudah mendukung hal tersebut dan ke depan JAFF dapati menjadi wajah Indonesia di tingkat global. "Kerja sama internasional juga harus ditampilkan di JAFF. Kita harus percaya diri bahwa JAFF ini sudah layak menjadi etalase internasional,” ujar Menbud dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026).
Selain itu Menbud mengutarakan harapannya agar JAFF Market menjadi penghubung yang inklusif dan menjadi bagian dari satu ekosistem. Dalam pengembangan ekosistem ini, peran pemerintah menurut Menteri Fadli difokuskan pada fungsi pendampingan, fasilitasi, dan dukungan kebijakan.
Direktur Festival JAFF, Ifa Isfansyah, pada diskusi tersebut turut menyampaikan bahwa JAFF sedang fokus pada literasi, salah satunya melalui JAFF Kids. Literasi film dipandang sebagai kunci dalam membangun kesadaran dan apresiasi penonton. "Melalui festival, market, dan komunitas, JAFF diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun ekosistem perfilman yang progresif,” jelasnya.
Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan JAFF sebagai etalase internasional, tidak hanya melalui dukungan pendanaan, tetapi juga melalui diplomasi strategis. Sebagai langkah konkret, Kementerian Kebudayaan akan mengirimkan surat undangan resmi kepada Cina, Prancis, Arab Saudi, dan Rusia untuk membuka paviliun di JAFF Market, sekaligus menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan JAFF yang selaras dengan kebijakan nasional.
Dalam diskusi tersebut, kedua pihak menyepakati untuk mendorong JAFF dalam menjaga konsistensi kehadirannya di berbagai festival internasional dan market film, untuk memperkuat posisi Indonesia dalam peta perfilman global. Kolaborasi dengan kementerian dinilai krusial guna memastikan kesinambungan, konsistensi, serta dukungan jejaring internasional. Ke depan, diharapkan paviliun internasional dalam JAFF Market dapat menjadi daya tarik utama bagi berbagai negara.
Momentum pertumbuhan industri film Indonesia turut menjadi perhatian utama. JAFF Market didorong untuk memanfaatkan perkembangan ini, termasuk meningkatnya minat kerja sama ko-produksi internasional. Salah satu indikasinya adalah ketertarikan Korea Selatan yang secara aktif mencari mitra, dan Indonesia menjadi salah satu tujuan utama.
Pada diskusi tersebut Menbud Fadli menyampaikan bahwa untuk tampil di dunia internasional perlu market atau platform yang stabil. Menurutnya saat ini pemerintah sudah mendukung hal tersebut dan ke depan JAFF dapati menjadi wajah Indonesia di tingkat global. "Kerja sama internasional juga harus ditampilkan di JAFF. Kita harus percaya diri bahwa JAFF ini sudah layak menjadi etalase internasional,” ujar Menbud dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026).
Selain itu Menbud mengutarakan harapannya agar JAFF Market menjadi penghubung yang inklusif dan menjadi bagian dari satu ekosistem. Dalam pengembangan ekosistem ini, peran pemerintah menurut Menteri Fadli difokuskan pada fungsi pendampingan, fasilitasi, dan dukungan kebijakan.
Direktur Festival JAFF, Ifa Isfansyah, pada diskusi tersebut turut menyampaikan bahwa JAFF sedang fokus pada literasi, salah satunya melalui JAFF Kids. Literasi film dipandang sebagai kunci dalam membangun kesadaran dan apresiasi penonton. "Melalui festival, market, dan komunitas, JAFF diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun ekosistem perfilman yang progresif,” jelasnya.
Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan JAFF sebagai etalase internasional, tidak hanya melalui dukungan pendanaan, tetapi juga melalui diplomasi strategis. Sebagai langkah konkret, Kementerian Kebudayaan akan mengirimkan surat undangan resmi kepada Cina, Prancis, Arab Saudi, dan Rusia untuk membuka paviliun di JAFF Market, sekaligus menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan JAFF yang selaras dengan kebijakan nasional.