home wirausaha syariah

Efisiensi Bank Mega Syariah Dorong Kinerja Kuartal I 2026 Makin Solid

Rabu, 06 Mei 2026 - 13:23 WIB
Efisiensi Bank Mega Syariah Dorong Kinerja Kuartal I 2026 Makin Solid
LANGIT7.ID-Jakarta; Efisiensi operasional dan penguatan strategi pendanaan menjadi faktor utama di balik perbaikan kinerja PT Bank Mega Syariah pada awal 2026. Perusahaan mencatat penurunan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) menjadi 76,90 persen dari sebelumnya 85,08 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Perbaikan efisiensi tersebut berjalan seiring dengan peningkatan margin, yang tercermin dari kenaikan Net Imbalan (NI) menjadi 5,85 persen dari 4,04 persen. Optimalisasi struktur pendanaan menjadi salah satu langkah yang dilakukan perseroan untuk menjaga biaya dana tetap efisien.

Kinerja ini juga didukung oleh pertumbuhan pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang mencapai Rp191,60 miliar, meningkat lebih dari 20 persen (year on year/yoy). Kontribusi pendapatan berbasis piutang tercatat lebih dari Rp118 miliar atau tumbuh sekitar 40,9 persen (yoy), sementara pendapatan bagi hasil naik sekitar 4,7 persen (yoy) menjadi lebih dari Rp114,73 miliar.

Di sisi ekspansi bisnis, penyaluran pembiayaan hingga akhir Maret 2026 mencapai lebih dari Rp9,26 triliun, tumbuh sekitar 7,2 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp8,64 triliun. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga telah melampaui Rp10 triliun.

Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari konsistensi strategi perusahaan dalam menjaga keseimbangan bisnis. “Kami terus mengoptimalkan strategi bisnis dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan pengelolaan biaya dana. Di saat yang sama, kami juga memperkuat layanan kepada nasabah melalui inovasi produk dan sinergi ekosistem,” kata Hanie dalam keterangannya, dikutip Rabu (6/5/2026).

Dengan berbagai perbaikan tersebut, laba sebelum pajak perseroan pada kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp79,97 miliar, meningkat 51,67 persen (yoy) dibandingkan Rp52,72 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi permodalan, rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) tetap kuat di level 27,63 persen. Perseroan juga terus mencermati risiko pembiayaan guna menjaga kualitas aset.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya