Meniti Jalan Ma'rifat: Mengurai Ajaran Tarekat Imam al-Ghazali
Miftah yusufpati
Kamis, 07 Mei 2026 - 03:30 WIB
Ia berhasil membuktikan bahwa tarekat memiliki metodologi yang jelas dan ilmiah dalam pembentukan karakter manusia yang berakhlak mulia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Matahari baru saja beranjak dari ufuk timur, tetapi suasana keheningan di kawasan pesantren tua di Jawa Timur mengingatkan kembali pada satu warisan pemikiran Islam yang tidak pernah lekang oleh waktu. Ia adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi, atau yang lebih dikenal luas sebagai Imam al-Ghazali.
Sang Hujjatul Islam tidak hanya dikenal sebagai filsuf, ahli fikih, dan teolog ulung, melainkan juga sebagai seorang sufi besar yang meletakkan fondasi spiritualitas melalui tarekat dan tasawuf. Melalui karyanya, khususnya Ihya Ulum al-Din, al-Ghazali memberikan panduan yang sangat jelas tentang bagaimana seorang pencari kebenaran harus menempuh jalan tarekat untuk mencapai kedekatan dengan Sang Pencipta.
Buku Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat karya Idries Shah, yang diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha (Penerbit Risalah Gusti, 1999), memberikan ulasan mendalam mengenai bagaimana pandangan al-Ghazali terkait perilaku dan watak manusia. Dalam catatannya, seorang manusia tidak dapat dikatakan manusia seutuhnya jika tendensinya hanya meliputi kesenangan diri, ketamakan, amarah, dan menyerang orang lain. Sikap ini merupakan bentuk kehancuran moral yang harus dibersihkan secara total melalui proses penyucian jiwa yang panjang dan konsisten.
Untuk mencapai kesucian tersebut, Imam al-Ghazali menekankan bahwa seorang murid atau pejalan spiritual harus mengurangi sampai batas minimum perhatiannya terhadap hal-hal biasa di dunia. Hal ini meliputi keterikatan pada masyarakat dan lingkungannya. Hal ini bukan berarti mengisolasi diri secara ekstrem, melainkan untuk menjaga kapasitas perhatian yang sangat terbatas agar tidak terkuras oleh hal-hal duniawi yang melalaikan. Al-Ghazali kerap mengingatkan pentingnya menjaga hati dari pengaruh buruk lingkungan sosial yang tidak kondusif bagi perkembangan spiritual.
Dalam tradisi tarekat, hubungan antara murid dan guru atau mursyid memegang peranan yang sangat krusial. Idries Shah, dalam Jalan Sufi, mengibaratkan bahwa seorang murid harus menghargai guru layaknya seorang pasien yang mendatangi dokter karena tahu pasti cara mengobati penyakitnya. Kaum sufi sering kali mengajar dengan cara yang tidak diharapkan atau tidak lazim bagi orang awam. Seorang dokter yang berpengalaman akan menentukan perlakuan-perlakuan tertentu dengan benar. Kendati pengamat luar mungkin saja sangat terpesona atau bingung terhadap apa yang ia katakan dan lakukan, mereka sering kali gagal melihat pentingnya atau relevansi prosedur yang diikuti oleh sang guru.
Dalam konteks ini, al-Ghazali juga menjelaskan dalam karya-karyanya bahwa tidak mungkin bagi murid untuk dapat mengajukan pertanyaan yang benar pada waktu yang tepat. Sang guru atau mursyid adalah sosok yang mengetahui apa dan kapan seseorang dapat mengerti pelajaran spiritual tersebut. Murid dituntut untuk memiliki sifat tawaduk dan menyerahkan diri pada bimbingan yang telah dirancang untuk perbaikan spiritualnya.
Pakar sejarah dan pemikiran Islam, W. Montgomery Watt, dalam studinya yang berjudul Muslim Intellectual: A Study of al-Ghazali, mencatat bahwa ketika al-Ghazali mengalami krisis epistemologi di Baghdad, ia meninggalkan semua kemewahan akademisnya untuk mengasingkan diri dan menjalani kehidupan sebagai seorang sufi. Keputusan ini membawanya pada pemahaman bahwa kebenaran tertinggi tidak dapat dicapai melalui rasio atau logika murni, melainkan melalui pengalaman langsung yang diperoleh dalam tarekat.
Sang Hujjatul Islam tidak hanya dikenal sebagai filsuf, ahli fikih, dan teolog ulung, melainkan juga sebagai seorang sufi besar yang meletakkan fondasi spiritualitas melalui tarekat dan tasawuf. Melalui karyanya, khususnya Ihya Ulum al-Din, al-Ghazali memberikan panduan yang sangat jelas tentang bagaimana seorang pencari kebenaran harus menempuh jalan tarekat untuk mencapai kedekatan dengan Sang Pencipta.
Buku Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat karya Idries Shah, yang diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha (Penerbit Risalah Gusti, 1999), memberikan ulasan mendalam mengenai bagaimana pandangan al-Ghazali terkait perilaku dan watak manusia. Dalam catatannya, seorang manusia tidak dapat dikatakan manusia seutuhnya jika tendensinya hanya meliputi kesenangan diri, ketamakan, amarah, dan menyerang orang lain. Sikap ini merupakan bentuk kehancuran moral yang harus dibersihkan secara total melalui proses penyucian jiwa yang panjang dan konsisten.
Untuk mencapai kesucian tersebut, Imam al-Ghazali menekankan bahwa seorang murid atau pejalan spiritual harus mengurangi sampai batas minimum perhatiannya terhadap hal-hal biasa di dunia. Hal ini meliputi keterikatan pada masyarakat dan lingkungannya. Hal ini bukan berarti mengisolasi diri secara ekstrem, melainkan untuk menjaga kapasitas perhatian yang sangat terbatas agar tidak terkuras oleh hal-hal duniawi yang melalaikan. Al-Ghazali kerap mengingatkan pentingnya menjaga hati dari pengaruh buruk lingkungan sosial yang tidak kondusif bagi perkembangan spiritual.
Dalam tradisi tarekat, hubungan antara murid dan guru atau mursyid memegang peranan yang sangat krusial. Idries Shah, dalam Jalan Sufi, mengibaratkan bahwa seorang murid harus menghargai guru layaknya seorang pasien yang mendatangi dokter karena tahu pasti cara mengobati penyakitnya. Kaum sufi sering kali mengajar dengan cara yang tidak diharapkan atau tidak lazim bagi orang awam. Seorang dokter yang berpengalaman akan menentukan perlakuan-perlakuan tertentu dengan benar. Kendati pengamat luar mungkin saja sangat terpesona atau bingung terhadap apa yang ia katakan dan lakukan, mereka sering kali gagal melihat pentingnya atau relevansi prosedur yang diikuti oleh sang guru.
Dalam konteks ini, al-Ghazali juga menjelaskan dalam karya-karyanya bahwa tidak mungkin bagi murid untuk dapat mengajukan pertanyaan yang benar pada waktu yang tepat. Sang guru atau mursyid adalah sosok yang mengetahui apa dan kapan seseorang dapat mengerti pelajaran spiritual tersebut. Murid dituntut untuk memiliki sifat tawaduk dan menyerahkan diri pada bimbingan yang telah dirancang untuk perbaikan spiritualnya.
Pakar sejarah dan pemikiran Islam, W. Montgomery Watt, dalam studinya yang berjudul Muslim Intellectual: A Study of al-Ghazali, mencatat bahwa ketika al-Ghazali mengalami krisis epistemologi di Baghdad, ia meninggalkan semua kemewahan akademisnya untuk mengasingkan diri dan menjalani kehidupan sebagai seorang sufi. Keputusan ini membawanya pada pemahaman bahwa kebenaran tertinggi tidak dapat dicapai melalui rasio atau logika murni, melainkan melalui pengalaman langsung yang diperoleh dalam tarekat.