home masjid

Menembus Batas Rutinitas: Gagasan Imam Al-Ghazali tentang Kontak Sosial dan Pemrakarsa Tertinggi

Kamis, 07 Mei 2026 - 04:00 WIB
Kita diajak untuk melihat kembali motivasi di balik setiap aktivitas yang kita lakukan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Matahari baru saja beranjak dari ufuk timur, tetapi suasana keheningan di kawasan pesantren tua di Jawa Timur mengingatkan kembali pada satu warisan pemikiran Islam yang tidak pernah lekang oleh waktu. Ia adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi, atau yang lebih dikenal luas sebagai Imam Al-Ghazali. Sang Hujjatul Islam tidak hanya dikenal sebagai filsuf, ahli fikih, dan teolog ulung, melainkan juga sebagai seorang sufi besar yang meletakkan fondasi spiritualitas melalui pendekatan rasional dan intuitif. Melalui karyanya, khususnya Ihya Ulum al-Din, Al-Ghazali memberikan panduan yang sangat jelas tentang bagaimana seorang pencari kebenaran harus membedakan antara pengalaman sosial yang dangkal dan pemahaman yang lebih tinggi.

Dalam buku Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat karya Idries Shah, yang diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha dan diterbitkan oleh penerbit Risalah Gusti pada November 1999, terdapat analisis mendalam mengenai pemikiran Al-Ghazali terkait fenomena kontak sosial. Idries Shah menguraikan bahwa Imam Al-Ghazali memberikan penekanan yang sangat kuat pada hubungan, sekaligus perbedaan, antara kontak sosial yang bersifat sebagai pengalihan dan kontak yang lebih tinggi. Kontak sosial sering kali menjadi mekanisme yang menahan laju pemikiran kritis dan pencarian spiritual yang mendalam.

Menurut Al-Ghazali, apa yang menghalangi kemajuan individu dan kelompok orang-orang, terlepas dari permulaan yang patut dipuji, adalah proses stabilisasi mereka sendiri terhadap repetisi atau pengulangan. Ketika masyarakat atau kelompok terlalu nyaman dengan rutinitas dan basis sosial yang tersembunyi di baliknya, mereka menjadi stagnan. Basis sosial yang tidak disadari ini membentuk batasan tak kasat mata yang menjebak individu dalam kebiasaan tanpa arah yang jelas. Hal ini sejalan dengan pandangan dari salah satu karya Al-Ghazali yang menekankan pentingnya amal dan tindakan yang didasari oleh ilmu yang benar, bukan sekadar kebiasaan turun-temurun tanpa pemahaman.

Dalam kitab Ihya Ulum al-Din, khususnya pada bagian Kitab al-Ilmu atau Kitab Ilmu, Imam Al-Ghazali menjelaskan pentingnya niat dan kesadaran dalam setiap tindakan. Beliau mengklasifikasikan ilmu ke dalam kewajiban individu dan kewajiban komunal yang membedakan bagaimana seseorang harus bertindak dalam masyarakat. Beliau sering kali mengaitkan hal ini dengan sebuah ungkapan yang sering menjadi prinsip utama dalam pendidikan spiritual:

العِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ

Al-'ilmu bila 'amalin kasy-syajari bila tsamarin.

Artinya: Ilmu tanpa amal atau tindakan bagaikan pohon tanpa buah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya