home masjid

Keutamaan Sepuluh Zulhijjah: Amal Saleh Lampaui Pahala Jihad

Jum'at, 08 Mei 2026 - 15:00 WIB
Kesadaran akan agungnya sepuluh Zulhijjah ini adalah bekal untuk meraih predikat mabrur. Ilustrasi: Muslim judial council
LANGIT7.ID-Padang Arafah dan lembah Mina menjadi saksi bisu peradaban manusia yang sedang merangkai kembali hubungan dengan Sang Pencipta. Di bawah terik matahari jazirah, jutaan jamaah haji bergerak dalam ritme yang sama, mengikuti jejak risalah yang telah digariskan ribuan tahun silam.

Namun, di balik keriuhan fisik tersebut, ada satu kesadaran yang tidak boleh luput dari ingatan: bahwa mereka sedang berada di dalam hari-hari yang paling agung di sisi Tuhan, yakni sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah.

Keagungan masa ini bukanlah tanpa alasan teologis yang kuat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Nabi Muhammad SAW memberikan penegasan yang sangat kontras untuk menggambarkan betapa istimewanya periode ini. Beliau bersabda:

مَا العَمَلُ فِي أَيَّامِ أَفْضَلُ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ قَالوُا: وَلاَ الْجِهَادُ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَاد، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وِمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيءٍ

Tidak ada amal yang dikerjakan pada setiap harinya yang lebih utama daripada sepuluh Zulhijjah. Para sahabat bertanya, tidak pula jihad? Nabi menjawab: Tidak pula jihad. Kecuali seorang yang keluar sendirian mengorbankan dirinya dengan harta dan jiwanya dan tidak kembali.

Abdulmalik al-Qosim dalam risalahnya yang berjudul Risalah ilaa Ahli Arafah wa Muzdalifah wa Mina, mengingatkan bahwa momen ini adalah puncak dari segala kebaikan. Bagi jamaah haji, berada di tanah suci saat periode ini adalah nikmat di atas nikmat. Jika amal saleh di hari biasa sudah bernilai besar, maka di waktu ini nilainya melampaui batas-batas kemuliaan yang biasa dibayangkan manusia, bahkan melampaui keutamaan jihad di medan perang, kecuali bagi mereka yang syahid secara total.

Keistimewaan sepuluh hari pertama Zulhijjah ini bahkan memicu perdebatan ilmiah di kalangan para ulama mengenai perbandingannya dengan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam catatan sejarah pemikiran Islam, Ibnu Taymiah pernah ditanya mengenai mana yang lebih utama di antara keduanya. Beliau memberikan jawaban yang sangat presisi dan komprehensif.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya