Benarkah Ibrahim Lahir di Gua Demi Hindari Eksekusi Massal Rezim Namrud
Miftah yusufpati
Sabtu, 09 Mei 2026 - 03:30 WIB
Tempat kelahiran Ibrahim di Babilonia bukan sekadar titik koordinat geografis. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Babilonia hari ini masih sunyi. Di antara aliran Sungai Tigris dan Efrat, kemegahan yang pernah dicatat sejarawan Yunani Herodotus (483-425 SM) sebagai salah satu keajaiban dunia itu telah meluruh menjadi gundukan tanah. Herodotus menggambarkan kota ini sebagai lapangan persegi panjang raksasa dengan keliling mencapai hampir dua ribu kilometer. Namun, di balik kebungkaman maut sisa peradaban itu, sejarah mencatat lahirnya seorang lelaki yang kelak menjungkirbalikkan logika teologi dunia: Ibrahim.
Ja'far Subhani dalam bukunya Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW, melukiskan Babilon sebagai lingkungan yang gelap secara spiritual. Di sana, derajat manusia jatuh serendah-rendahnya karena menundukkan kepala kepada patung buatan tangan sendiri atau kepada gemerlap benda langit. Dalam situasi inilah, Ibrahim lahir sebagai sosok yang oleh Subhani disebut sebagai Jawara Tauhid. Yang mengangkat kedudukannya bukan sekadar keberanian fisik, melainkan kesabaran dan ketabahan batin yang luar biasa.
Kondisi sosial politik Babilonia saat itu berada di bawah jempol Namrud putra Kan'an. Ia bukan sekadar penguasa politik, melainkan sosok yang memaksakan klaim ketuhanan kepada rakyatnya yang jahil. Fenomena penguasa yang mengaku tuhan namun tetap menyembah berhala merupakan pola lama tirani. Al-Quran memberikan analogi serupa pada sosok Fir'aun di Mesir melalui Surah al-A'raf ayat 127:
وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوۡمَهُۥ لِيُفۡسِدُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَ
Waqalal mala-u min qaumi fir'auna atadzaru musa waqaumahu liyufsidu fil ardhi wayadzuraka wa alihataka.
Artinya: Para pembesar kaum Fir'aun berkata: Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkanmu serta tuhan-tuhanmu?
Ayat ini mempertegas bahwa seorang diktator sering kali menggunakan agama atau tuhan-tuhan tradisional sebagai alat legitimasi kekuasaan, sembari menempatkan diri mereka sendiri di puncak hierarki penyembahan.
Ja'far Subhani dalam bukunya Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW, melukiskan Babilon sebagai lingkungan yang gelap secara spiritual. Di sana, derajat manusia jatuh serendah-rendahnya karena menundukkan kepala kepada patung buatan tangan sendiri atau kepada gemerlap benda langit. Dalam situasi inilah, Ibrahim lahir sebagai sosok yang oleh Subhani disebut sebagai Jawara Tauhid. Yang mengangkat kedudukannya bukan sekadar keberanian fisik, melainkan kesabaran dan ketabahan batin yang luar biasa.
Kondisi sosial politik Babilonia saat itu berada di bawah jempol Namrud putra Kan'an. Ia bukan sekadar penguasa politik, melainkan sosok yang memaksakan klaim ketuhanan kepada rakyatnya yang jahil. Fenomena penguasa yang mengaku tuhan namun tetap menyembah berhala merupakan pola lama tirani. Al-Quran memberikan analogi serupa pada sosok Fir'aun di Mesir melalui Surah al-A'raf ayat 127:
وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوۡمَهُۥ لِيُفۡسِدُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَ
Waqalal mala-u min qaumi fir'auna atadzaru musa waqaumahu liyufsidu fil ardhi wayadzuraka wa alihataka.
Artinya: Para pembesar kaum Fir'aun berkata: Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkanmu serta tuhan-tuhanmu?
Ayat ini mempertegas bahwa seorang diktator sering kali menggunakan agama atau tuhan-tuhan tradisional sebagai alat legitimasi kekuasaan, sembari menempatkan diri mereka sendiri di puncak hierarki penyembahan.