Logika Bintang: Membedah Logika Tauhid Ibrahim Terhadap Benda Langit
Miftah yusufpati
Senin, 11 Mei 2026 - 03:00 WIB
Ibrahim tidak hanya menggunakan iman buta, ia menggunakan akal sebagai jembatan menuju keyakinan yang kokoh. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah kepulan asap kemenyan dan deretan berhala di Mesopotamia, seorang pemuda berdiri tegak dengan keresahan intelektual yang tajam. Ibrahim, yang kelak dijuluki sebagai bapak tauhid, tidak sekadar menolak tradisi nenek moyangnya karena sentimen personal. Ia memulai revolusi kesadaran melalui metode yang hari ini kita kenal sebagai observasi empiris dan logika deduktif.
Ja'far Subhani dalam karyanya Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW menggambarkan betapa Ibrahim sangat menyadari bahwa alam semesta memiliki keteraturan yang luar biasa. Namun, kegelisahan Ibrahim bermuara pada satu pertanyaan fundamental: apakah sumber kekuatan itu berasal dari benda-benda langit yang tampak, atau dari Wujud Yang Mahakuasa yang jauh melampaui materi? Ibrahim melakukan dekonstruksi terhadap pemikiran kaumnya dengan cara yang amat elegan, yakni dengan mengikuti alur berpikir mereka sebelum akhirnya menunjukkan keruntuhan logika tersebut.
Ketika malam menyelimuti langit, Ibrahim melihat bintang yang bersinar terang. Dalam Al-Quran Surah Al-An'am ayat 76 disebutkan: Falamma janna 'alaihil-lailu ra'a kaukaban, qala hadza rabbi. Tatkala malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang, lalu dia berkata, Inilah tuhanku. Namun, saat bintang itu tenggelam, nalar Ibrahim bekerja. Ia menyatakan ketidaksukaannya pada sesuatu yang menghilang (la uhibbul-afilin). Sikap ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan sebuah konklusi filosofis bahwa Tuhan tidak mungkin tunduk pada hukum ruang dan waktu yang membuatnya lenyap.
Logika ini berlanjut saat ia menyaksikan bulan dan matahari. Setiap kali benda langit yang lebih besar muncul, Ibrahim memberikan peluang bagi benda tersebut untuk membuktikan ketuhanannya. Namun, ketika matahari yang paling besar sekalipun terbenam, Ibrahim sampai pada puncak dialektikanya. Ia menyimpulkan bahwa wujud-wujud yang cerah dan bersinar itu sendiri tunduk pada ketetapan tertentu; mereka terbit, terbenam, dan bergerak pada orbit yang tak berubah-ubah. Hal ini membuktikan bahwa mereka hanyalah objek yang dikendalikan oleh kekuatan lain yang lebih besar.
Secara filosofis, argumen Ibrahim menyentuh aspek kebutuhan (need) dan kemungkinan (contingency). Sebagaimana dijelaskan dalam literatur pemikiran Islam klasik, alam semesta sepenuhnya memiliki peluang-peluang dan kebutuhan-kebutuhan. Makhluk dan fenomena alami tak pernah lepas dari ketergantungan. Subhani menekankan bahwa benda-benda langit itu hadir dan diperlukan pada suatu saat, namun tak hadir serta tak berguna pada saat lainnya. Wujud yang bersifat temporal dan terbatas seperti itu tidak memiliki kemampuan untuk menjadi tuhan, apalagi memenuhi kebutuhan seluruh alam semesta.
Teori Ibrahim ini dapat diperluas dalam bentuk pernyataan teoritis yang sangat modern. Jika gerakan benda langit itu bersifat mekanistik tanpa pilihan, maka pastilah ada tangan yang mengendalikannya. Jika mereka bergerak atas kehendak sendiri untuk mencapai kesempurnaan, maka itu berarti mereka awalnya memiliki kekurangan. Tuhan, dalam logika Ibrahim, adalah Wujud yang independen, kuasa, dan bijaksana yang tidak memiliki celah kekurangan. Sebaliknya, jika gerakan mereka menuju pada pelemahan dan kehancuran, maka mereka hanyalah materi yang mengalami entropi.
Upaya Ibrahim ini selaras dengan konsep fitrah dalam diskursus teologi. Murtadha Mutahhari dalam bukunya Fitrah menyebutkan bahwa pencarian manusia akan Tuhan adalah dorongan kodrati yang didukung oleh akal. Ibrahim tidak hanya menggunakan iman buta, ia menggunakan akal sebagai jembatan menuju keyakinan yang kokoh. Ia membedah alam semesta bukan sebagai tuhan, melainkan sebagai tanda (ayat) yang menunjuk pada Sang Pencipta.
Ja'far Subhani dalam karyanya Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW menggambarkan betapa Ibrahim sangat menyadari bahwa alam semesta memiliki keteraturan yang luar biasa. Namun, kegelisahan Ibrahim bermuara pada satu pertanyaan fundamental: apakah sumber kekuatan itu berasal dari benda-benda langit yang tampak, atau dari Wujud Yang Mahakuasa yang jauh melampaui materi? Ibrahim melakukan dekonstruksi terhadap pemikiran kaumnya dengan cara yang amat elegan, yakni dengan mengikuti alur berpikir mereka sebelum akhirnya menunjukkan keruntuhan logika tersebut.
Ketika malam menyelimuti langit, Ibrahim melihat bintang yang bersinar terang. Dalam Al-Quran Surah Al-An'am ayat 76 disebutkan: Falamma janna 'alaihil-lailu ra'a kaukaban, qala hadza rabbi. Tatkala malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang, lalu dia berkata, Inilah tuhanku. Namun, saat bintang itu tenggelam, nalar Ibrahim bekerja. Ia menyatakan ketidaksukaannya pada sesuatu yang menghilang (la uhibbul-afilin). Sikap ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan sebuah konklusi filosofis bahwa Tuhan tidak mungkin tunduk pada hukum ruang dan waktu yang membuatnya lenyap.
Logika ini berlanjut saat ia menyaksikan bulan dan matahari. Setiap kali benda langit yang lebih besar muncul, Ibrahim memberikan peluang bagi benda tersebut untuk membuktikan ketuhanannya. Namun, ketika matahari yang paling besar sekalipun terbenam, Ibrahim sampai pada puncak dialektikanya. Ia menyimpulkan bahwa wujud-wujud yang cerah dan bersinar itu sendiri tunduk pada ketetapan tertentu; mereka terbit, terbenam, dan bergerak pada orbit yang tak berubah-ubah. Hal ini membuktikan bahwa mereka hanyalah objek yang dikendalikan oleh kekuatan lain yang lebih besar.
Secara filosofis, argumen Ibrahim menyentuh aspek kebutuhan (need) dan kemungkinan (contingency). Sebagaimana dijelaskan dalam literatur pemikiran Islam klasik, alam semesta sepenuhnya memiliki peluang-peluang dan kebutuhan-kebutuhan. Makhluk dan fenomena alami tak pernah lepas dari ketergantungan. Subhani menekankan bahwa benda-benda langit itu hadir dan diperlukan pada suatu saat, namun tak hadir serta tak berguna pada saat lainnya. Wujud yang bersifat temporal dan terbatas seperti itu tidak memiliki kemampuan untuk menjadi tuhan, apalagi memenuhi kebutuhan seluruh alam semesta.
Teori Ibrahim ini dapat diperluas dalam bentuk pernyataan teoritis yang sangat modern. Jika gerakan benda langit itu bersifat mekanistik tanpa pilihan, maka pastilah ada tangan yang mengendalikannya. Jika mereka bergerak atas kehendak sendiri untuk mencapai kesempurnaan, maka itu berarti mereka awalnya memiliki kekurangan. Tuhan, dalam logika Ibrahim, adalah Wujud yang independen, kuasa, dan bijaksana yang tidak memiliki celah kekurangan. Sebaliknya, jika gerakan mereka menuju pada pelemahan dan kehancuran, maka mereka hanyalah materi yang mengalami entropi.
Upaya Ibrahim ini selaras dengan konsep fitrah dalam diskursus teologi. Murtadha Mutahhari dalam bukunya Fitrah menyebutkan bahwa pencarian manusia akan Tuhan adalah dorongan kodrati yang didukung oleh akal. Ibrahim tidak hanya menggunakan iman buta, ia menggunakan akal sebagai jembatan menuju keyakinan yang kokoh. Ia membedah alam semesta bukan sebagai tuhan, melainkan sebagai tanda (ayat) yang menunjuk pada Sang Pencipta.