Oleh: Prof Dr Bambang SetiajiLANGIT7.ID-Ide koperasi merah putih 80.000 adalah ide besar, yang bila berhasil akan membawa perubahan besar menuju Government Drive economy suatu tata ekonomi yang dibimbing oleh negara. Gerakan ini menggeser ekonomi yang liberal dan semakin liberal paska reformasi 98 menjadi lebih sosialis lebih mendekati versi pasal 33 UUD. Sosialisme modern di mana pemerintah mengorganisir masyarakat bebas untuk ikut dalam suatu gerakan ekonomi karena daya tarik keputusan yang rasional. Hal mana akan menjadi percampuran yang unik yang selama ini hanya ada di atas kertas dan retorika semata.
Koperasi 80 000 desa berdiri di era puncak teknologi berbasis internet, sangat disayangkan jika hanya menjadi gerakan koperasi biasa mengulang kegagalan masa lalu. Koperasi desa merah putih bisa menjadi rekayasa terbesar dunia jika berhasil dipadukan dengan teknologi berbasis internet, di mana anggota koperasi setidaknya 100 juta orang bisa dikoneksi sedemikian rupa. Teknologi blockchain merupakan teknologi yang memungkinkan mengkoneksikan 100 juta anggota koperasi dengan suatu smart kontrak. Permodalan dan transaksi keuangan adalah faktor kunci untuk mengkoneksi mereka karena setiap gerakan ekonomi adalah gerakan transaksi.
MBG sangat disayangkan berbasis teknologi lama mereplikasi teknologi pertengahan abad lalu dengan melihat praktek MBG di berbagai negara maju. Bisa dibayangkan jika MBG ini berbasis teknologi hantaran masa kini tentu yang dibangun negara maka partisipasi MBG akan sangat luas melibatkan ratusan ribu resto dan warung. Hal ini menandai MBG yang lahir di abad 21 di era puncak teknologi internet sebagai pendatang baru. Negara lain akan studi banding ke Indonesia untuk melihat perpaduan ini.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Sistem Bonus dalam Dilemma Pengupahan KitaBila MBG sdh agak terlambat, koperasi merah putih masih terbuka lebar untuk dijadikan Indonesia connected. Apa yang mendorong koneksi ini kepentingan bersama untuk baik memasarkan, bertransaksi, dan memverifikasi. Teknologi blockchain bertugas memverifikasi sehingga koneksi tersebut lebih terjamin. Sebagaimana namanya blockchain adalah connected, block block berkoneksi antar desa dan robot teknologi akan menjembatani tukar menukar. Bisnis tidak lain adalah kelebihan pasok mencari yang memerlukan dan permintaan mencari pemasok terbaik dengan perpaduan kuantitas kualitas dan harga. Pasar besar ini terwujud dalam suatu aplikasi dan blockchain melandasi transaksi tersebut.
Permodalan juga demikian, kelebihan modal suatu desa akan diinvestasikan antar desa yang membutuhkan dan sebaliknya dibimbing oleh teknologi blockchain. Loanable market berbasis robot dan algoritma transaksi besar ini akan sangat efisien dan sekaligus menjadi lompatan teknologi. Desa desa di Jawa yang memiliki kelebihan modal karena tidak terdapat daya serap misalnya bisa diarahkan untuk berinvestasi di koperasi lain misalnya yang sedang mengajukan tambang di luar Jawa. Ekonomi bukan administratif yang dibatasi oleh batas desa, tetapi benar benar Indonesia Connected.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Ekonomi Ummat Stabil MeningkatYang paling ditakutkan dari program 80.000 koperasi desa adalah korupsi. Korupsi terjadi karena para pengelola melihat peluang. Dan peluang tersebut dimanfaatkan dengan mengambil keputusan yang merugikan koperasi. Kebanyakan koperasi yang gagal berbasis dari kepentingan pengurus.
Apakah SDM kita Mampu ?Teknologi berbasis internet dan blockchain tersebut bisa diciptakan oleh SDM kita ribuan doktor dan programer bidang terkait mengatakan tidak sulit merealisikan ide di atas. Kuncinya adalah semangat maju ke depan, bukan melihat ke belakang dan memenuhi regulasi yang tentu saja tidak mengakomodasi suatu hal yang belum ada.
Apakah para pengguna dan anggota koperasi bisa berpartisipasi teknologi tersebut ? Tentu saja bisa, lebih 160 juta penduduk kita terkoneksi dengan hand phone dan internet. Tentu perlu training penggunaan sebentar. Anak anak muda kita minimal lulusan SMA SMK akan menjadi garda depan. Tentu saja kita tidak memulai dari generasi lama.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Upah Mayoritas Rakyat MenurunBaca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Tekanan Fiskal Berkutat di Meja MakanInti dari gagasan ini adalah mensolusi ide besar 80 000 koperasi desa yang akan membawa negara lebih sosialis tetapi tidak menjadi komunis, merangkai dan mengoordinasi 160 juta angkatan kerja yang bebas dengan bantuan teknologi yang kapasitasnya memungkinkan. Sehingga gagasan besar Presiden tidak kembali ke masa lalu tetapi dibantu oleh para ahli menuju ke depan. Yang dibantu juga harus mau jangan merasa sudah selesai tantangan dan kemajuan membentang tiada henti. Tanpa terkait teknologi koperasi lama akan sulit bertahan, generasi muda juga akan sulit menerima lebih lebih jika dipaksakan. (Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)