Oleh: Prof Dr Bambang SetiajiLANGIT7.ID-Perubahan kondisi seputar keuangan negara dipicu oleh perang Iran, selat Hormuz sebagai net importir dan kenaikan harga minyak kemungkinan akan memaksa kita mereview pengeluaran subsidi dan bantuan sosial (BANSOS). Pokok pokok pengeluaran baku negara kita meliputi: pembayaran terkait hutang yaitu pokok 830 triliun dan bunga 580 triliun, total terkait hutang 1410 triliun.
Disamping kewajiban di atas pengeluaran mandatory lainnya adalah gaji ASN 547 triliun, pendidikan 768,5 triliun. Terkait subsidi dan pengeluaran sosial termasuk MBG diperkirakan sebagai berikut: MBG sebesar 335 triliun, subsidi energi dan non energi 210 triliun, bansos 173 triliun, koperasi dan UMKM 20 triliun, sehingga kalau ditotal pengeluaran di sekitar pos tersebut mencapai 738 triliun.
Pengeluaran pengeluaran ini terutama MBG, bantuan sosial dan koperasi merah putih bagaimanapun adalah pengalaman baru yang bereksperimen menggerakkan ekonomi bawah secara langsung dan riil. Permintaan baru kepada ekonomi bawah sebesar lebih dari 500 triliun tentu akan mendorong kesempatan usaha rakyat seperti peternakan, perikanan, dan pertanian. Perpaduan permintaan barang dan pemberian daya beli melalui bansos dan upah pekerja MBG tentu akan memperkuat lingkaran ekonomi bawah.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Daya Tahan Krisis - Ekonomi KitaPada gilirannya kekuatan ekonomi bawah ini juga akan menjadi permintaan ekonomi atas dan memperkuat permintaan impor terutama barang murah dari China yang sangat cocok dengan munculnya kekuatan ekonomi bawah. Juga sebagiannya perlu dicatat munculnya orang kaya baru di bawah dengan adanya kesempatan menjadi SPPG. Sayang sebagian dari ini kembali kepada sirkuit terkait pemerintah sendiri seperti masuknya POLRI dan orang kaya lama. Seandainya MBG bisa menolong kepadatan kafe dan restorant sebenarnya perputaran ekonomi bawah akan lebih sempurna.
Permasalahan yang mungkin akan mengganggu eksperimen ekonomi bawah tersebut adalah pembayaran hutang dan subsidi energi dan pupuk yang terkait dengan pemasok asing. Kombinasi harga minyak dan pelemahan rupiah atau kenaikan katakanlah dollar mungkin akan memaksa pemerintah mengalah untuk mereview kembali subsidi dan bansos yang baru saja akan direspons oleh lahirnya produksi kerakyatan. Bisa kita bayangkan kolam ikan dan kandang ayam mungkin sedang dibangun oleh pemuda desa yang menyadari adanya peluang permintaan baru. Ekonom ekonom konvensional yang sangat menguntungkan sirkuit atas banyak mendesak agar pemerintah mereview pengeluaran pengeluaran ini.
Bagaimanapun pengalaman baru untuk sirkuit memberi kesempatan sirkuit bawah ini sangat penting. Di lapangan pemuda kita yang lulus perguruan tinggi meningkat pesat setahun lebih dari 2 juta pemuda. Kita tahu lowongan ekonomi dengan upah yang baik sangat kurang, mendesak lulusan baru mencari peluang kemandirian yang sangat macth dengan kesempatan ekonomi bawah yang terbuka.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Ketika Kerugian Ekonomi Lebih Menonjol daripada Hilangnya NyawaPemikiran ekonom konvensional yang mendesak pemerintah mereview pengeluaran subsidi dan bansos ke bawah, sejalan juga dengan pemikiran mapan misalnya mempebanyak lulusan univesitas besar. PTN BH membuka cabang di mana mana dan mendesak PTS kecil. Hal ini perlu diluruskan, PTS kecil berperan melahirkan sekolah murah, dekat rumah, di kabupaten, yang mendidik anak muda melek sain dan teknologi tetapi secara ekonomi belum terpapar konsumsi tinggi.
Sarjana sarjana sangat cocok dengan penguatan ekonomi bawah dan UMKM yang mulai melek teknologi. Mereka membutuhkan sarjana yang bersedia dibayar rendah. KIP bantuan beasiswa rakyat untuk anak anak biasa mestinya diarahkan untuk menguatkan PTS dan sirkuit UMKM dan ekonomi baru MBG, sedang anak anak berbakat dari kelompok bawah mestinya perlu mendapat alokasi KIP khusus untuk masuk di universitas papan atas. Bagaimana hasil pergulatan ini kita lihat ke depan, sayangnya pertarungan pemikiran ekonomi ini dibumbui oleh militerisme gaya lama dengan entah dari mana idenya masalah air keras yang membangkitkan kekuatan masyarakat sipil untuk menentang pemerintah. Akankah ekonomi baru yang memperkuat sirkuit ekonomi bawah ditambah ketersediaan sarjana murah meriah di bawah akan menjadi kenangan? Semoga tidak.(Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)