Staff Khusus Kepresidenan Yovie Widianto Sebut AI Tak Bisa Gantikan Kreatifitas
Dwi sasongko
Kamis, 14 Mei 2026 - 20:37 WIB
Staff Khusus Kepresidenan Yovie Widianto Sebut AI Tak Bisa Gantikan Kreatifitas
LANGIT7.ID-Jakarta; Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto mengatakan perkembangan AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi seniman maupun industri kreatif. Demikian dikatakannya dalam kegiatan Glow Innovation Talks” yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) UB, di Gedung Auditorium UB, Rabu (13/5/2026)
Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan untuk mendukung proses berkarya serta memperluas akses dan peluang ekonomi kreatif di era digital.
"Teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam proses kreatif, sedangkan inti utama sebuah karya seni tetap berasal dari rasa, pengalaman, intuisi, dan hati manusia," katanya
Yovie mengaku selama perjalanan kariernya juga memanfaatkan perkembangan teknologi. Ia mencontohkan perubahan distribusi musik dari era CD hingga kini berkembang ke platform digital yang memungkinkan karya-karyanya diputar miliaran kali oleh masyarakat di berbagai negara.
Menurutnya, seniman harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai emosional dalam karya yang dihasilkan.
Meskipun begitu, Yovie menegaskan bahwa perkembangan AI dan teknologi saat ini tidak akan mampu menggantikan peran seniman musik yang sesungguhnya.
“AI atau teknologi tidak punya hati, jadi tetap kekuatan seni terletak pada perasaan dan hati senimannya,” ujar Yovie di hadapan ratusan peserta.
Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan untuk mendukung proses berkarya serta memperluas akses dan peluang ekonomi kreatif di era digital.
"Teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam proses kreatif, sedangkan inti utama sebuah karya seni tetap berasal dari rasa, pengalaman, intuisi, dan hati manusia," katanya
Yovie mengaku selama perjalanan kariernya juga memanfaatkan perkembangan teknologi. Ia mencontohkan perubahan distribusi musik dari era CD hingga kini berkembang ke platform digital yang memungkinkan karya-karyanya diputar miliaran kali oleh masyarakat di berbagai negara.
Menurutnya, seniman harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai emosional dalam karya yang dihasilkan.
Meskipun begitu, Yovie menegaskan bahwa perkembangan AI dan teknologi saat ini tidak akan mampu menggantikan peran seniman musik yang sesungguhnya.
“AI atau teknologi tidak punya hati, jadi tetap kekuatan seni terletak pada perasaan dan hati senimannya,” ujar Yovie di hadapan ratusan peserta.