home masjid

Sejarah Ibadah Haji Abad Ke-14: Berlayar Bersama Angin Muson Tanpa Antrean Birokrasi

Jum'at, 22 Mei 2026 - 17:13 WIB
Di era kerajaan Islam tradisional, batas antara keberangkatan menuju tanah suci dan kematian di tengah samudra menjadi sangat tipis. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Hasrat menunaikan rukun Islam kelima di kalangan masyarakat Nusantara merupakan kisah tentang keteguhan yang berkelindan dengan taruhan nyawa. Jauh sebelum era modern memangkas jarak ruang dan waktu melalui penerbangan komersial, atau memunculkan daftar tunggu birokrasi yang mengular hingga puluhan tahun, ibadah haji di masa klasik dipenuhi ketidakpastian.

Di era kerajaan Islam tradisional, batas antara keberangkatan menuju tanah suci dan kematian di tengah samudra menjadi sangat tipis.

Haji menjadi satu ibadah yang sangat diidamkan umat Islam. Menunaikan rukun Islam kelima menjadi puncak dari semua hasrat menjalankan perintah Allah sebagai bukti ketundukan pada-Nya. Hal ini dibuktikan dengan betapa besar perjuangan jemaah haji sejak dulu hingga kini melaksanakan panggilan Allah dengan berbagai cara.

Sifat totalitas ritus ini terekam dalam kitab suci Al-Quran Surah Ali Imran ayat 97 yang menegaskan kewajiban tersebut bagi yang memiliki kemampuan:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Walillahi alan nasi hijjul baiti manistatha'a ilaihi sabila.

Artinya: Dan di antara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya