home global news

Ekosistem Ekonomi Haji : Mata Rantai Menuju Indonesia sebagai Pusat Halal Dunia

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:09 WIB
Ekosistem Ekonomi Haji : Mata Rantai Menuju Indonesia sebagai Pusat Halal Dunia
Oleh: Prof. Dr. Euis Amalia M.Ag, (Guru Besar Ilmu Ekonomi Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

LANGIT7.ID-Menjelang musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, sekitar 221.000 jemaah Indonesia terdiri dari 203.320 jemaah reguler dan 17.680 jemaah haji khusus bersiap menuju Tanah Suci. Di balik angka itu tersimpan kenyataan yang sering luput dari perhatian publik: ibadah haji bukan semata peristiwa spiritual, melainkan juga peristiwa ekonomi berskala besar. Kementerian Haji dan Umrah memproyeksikan perputaran uang dalam penyelenggaraan haji 2026 mencapai Rp18,2 triliun. Bila digabung dengan umrah, angkanya menembus sekitar Rp50 triliun per tahun. Kementerian Keuangan bahkan memperkirakan ekosistem haji umrah berpotensi tumbuh dari Rp65 triliun pada 2023 menjadi Rp194 triliun pada 2030.

Pertanyaannya bukan lagi seberapa besar potensi itu, melainkan ke mana arah alirannya. Selama ini, sebagian besar belanja haji justru terserap di Arab Saudi mulai dari akomodasi, transportasi, hingga catering, sementara Indonesia kerap berperan sebatas konsumen. Padahal Indonesia adalah pengirim jemaah haji terbesar di dunia. Inilah mata rantai yang hilang dalam ambisi besar menjadikan Indonesia sebagai pusat halal dunia: ekonomi haji belum sepenuhnya menjadi ekonomi bagi bangsa sendiri.

Posisi awal Indonesia sebenarnya menjanjikan. State of the Global Islamic Economy Report 2024/2025 menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga ekosistem industri halal dunia, setelah Malaysia dan Arab Saudi, dengan kenaikan skor tertinggi 19,8 poin dibanding tahun sebelumnya. Ekspor produk industri halal nasional pun tercatat USD64,11 miliar sepanjang 2024. Namun neraca perdagangan halal kita dengan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) masih timpang: ekspor 2023 baru USD12,33 miliar, sementara impor mencapai USD29,64 miliar. Momentum haji semestinya menjadi salah satu pintu memperbaiki ketimpangan itu.



Rantai Nilai Halal : Produk Halal hingga Ekspor Halal


Mata rantai pertama yang bisa dibenahi adalah produk halal untuk kebutuhan ibadah berupa pakaian ihram, perlengkapan salat, kosmetik, amenities hotel, kuliner, obat-obatan serta oleh-oleh haji. Selama ini pasar oleh-oleh banyak didominasi produk impor yang dibeli jemaah di Tanah Suci lalu dibawa pulang. Kementerian Haji dan Umrah kini mengembangkan platform digital oleh-oleh haji yang mempertemukan jemaah dengan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) nasional sekaligus melindungi mereka dari praktik penipuan. Gagasan ini sederhana, tetapi strategis: mengalihkan belanja konsumtif jemaah menjadi stimulus bagi produsen dalam negeri, mulai dari penyedia atribut jemaah hingga pemasok bumbu untuk katering.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya