Kementerian Kebudayaan Dukung Produksi Film Dayak, Fadli Zon Minta Skenario Diperkuat
Tim langit 7
Senin, 25 Mei 2026 - 17:35 WIB
Kementerian Kebudayaan Dukung Produksi Film Dayak, Fadli Zon Minta Skenario Diperkuat
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menerima audiensi Tim Produksi Film Kolosal berjudul “Dayak” di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta. Pertemuan tersebut membahas rencana produksi film layar lebar berlatar budaya Dayak yang mengangkat sejarah, keberagaman, serta nilai perdamaian masyarakat Dayak melalui medium perfilman.
Ketua Tim Produksi Film “Dayak”, Thoeseng T.T. Asang, menjelaskan bahwa film tersebut merupakan upaya revitalisasi budaya Dayak sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah dan keberagaman masyarakat Dayak kepada publik yang lebih luas. Dirinya menyampaikan bahwa terdapat ratusan sub suku Dayak dengan ratusan bahasa yang menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia. Film ini juga akan mengangkat sejarah perdamaian masyarakat Dayak melalui Perjanjian Tumbang Anoi tahun 1894. “Melalui film ini kami ingin menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan budaya Dayak dengan semangat “Karya untuk Negeri, Dayak untuk Indonesia,” harap Hoeseng dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).
Penanggung jawab sekaligus produser eksekutif film, Abriantinus, menyampaikan bahwa tim produksi telah melakukan riset sejak tahun 2021 dengan melibatkan berbagai tokoh adat dan masyarakat Dayak di Kalimantan. Menurutnya, film tersebut akan mengangkat perjalanan sejarah Dayak secara garis besar dengan pendekatan film panjang yang memadukan unsur sejarah dan fiksi. “Besar harap kami, film Dayak ini bisa meluruskan stigma negatif terhadap masyarakat Dayak yang selama ini dianggap tertinggal dan tertutup. Kami ingin menunjukan bahwa masyarakat Dayak menjunjung tinggi perdamaian serta mampu hidup berdampingan dengan masyarakat luas,” kata Abriantinus. Dirinya juga berharap, film panjang ini bisa memperkenalkan hukum adat Dayak yang dapat menjadi sumber acuan penegakan hukum di Indonesia melalui pendekatan yang humanis dan kekeluargaan.
Sutradara film, Ivan Baghito, menyampaikan bahwa pengangkatan budaya Dayak ke layar lebar memiliki potensi besar untuk memperkuat literasi budaya sekaligus arsip budaya yang bernilai tinggi di masa mendatang. Dirinya menilai, minat masyarakat terhadap film berlatar budaya terus meningkat sehingga menjadi momentum positif bagi pengembangan perfilman berbasis budaya Nusantara. “Film ini diharapkan tidak hanya menjadi hiburan semata, namun juga dapat memperkuat pengetahuan masyarakat mengenai budaya Dayak secara komprehensif,” ujar Ivan.
Ketua Tim Produksi Film “Dayak”, Thoeseng T.T. Asang, menjelaskan bahwa film tersebut merupakan upaya revitalisasi budaya Dayak sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah dan keberagaman masyarakat Dayak kepada publik yang lebih luas. Dirinya menyampaikan bahwa terdapat ratusan sub suku Dayak dengan ratusan bahasa yang menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia. Film ini juga akan mengangkat sejarah perdamaian masyarakat Dayak melalui Perjanjian Tumbang Anoi tahun 1894. “Melalui film ini kami ingin menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan budaya Dayak dengan semangat “Karya untuk Negeri, Dayak untuk Indonesia,” harap Hoeseng dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).
Penanggung jawab sekaligus produser eksekutif film, Abriantinus, menyampaikan bahwa tim produksi telah melakukan riset sejak tahun 2021 dengan melibatkan berbagai tokoh adat dan masyarakat Dayak di Kalimantan. Menurutnya, film tersebut akan mengangkat perjalanan sejarah Dayak secara garis besar dengan pendekatan film panjang yang memadukan unsur sejarah dan fiksi. “Besar harap kami, film Dayak ini bisa meluruskan stigma negatif terhadap masyarakat Dayak yang selama ini dianggap tertinggal dan tertutup. Kami ingin menunjukan bahwa masyarakat Dayak menjunjung tinggi perdamaian serta mampu hidup berdampingan dengan masyarakat luas,” kata Abriantinus. Dirinya juga berharap, film panjang ini bisa memperkenalkan hukum adat Dayak yang dapat menjadi sumber acuan penegakan hukum di Indonesia melalui pendekatan yang humanis dan kekeluargaan.
Sutradara film, Ivan Baghito, menyampaikan bahwa pengangkatan budaya Dayak ke layar lebar memiliki potensi besar untuk memperkuat literasi budaya sekaligus arsip budaya yang bernilai tinggi di masa mendatang. Dirinya menilai, minat masyarakat terhadap film berlatar budaya terus meningkat sehingga menjadi momentum positif bagi pengembangan perfilman berbasis budaya Nusantara. “Film ini diharapkan tidak hanya menjadi hiburan semata, namun juga dapat memperkuat pengetahuan masyarakat mengenai budaya Dayak secara komprehensif,” ujar Ivan.