Presiden Pantai Gading Berbaring di Tanah Suci, Tolak Fasilitas Mewah dan Pengawal, Benar Benar Pejabat Yang Langka
Tim langit 7
Kamis, 28 Mei 2026 - 23:22 WIB
Presiden Pantai Gading Berbaring di Tanah Suci, Tolak Fasilitas Mewah dan Pengawal, Benar Benar Pejabat Yang Langka
LANGIT7.ID-Mina; Di tengah lautan jutaan jamaah haji yang memadati tanah suci, terlihat sosok yang sedang berbaring sederhana di atas tanah. Dialah Presiden Republik Pantai Gading, Alassane Ouattara.
Pemimpin berusia 83 tahun itu datang ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dengan biaya pribadi. Bahkan, kabarnya ia dengan tegas menolak fasilitas istana dan penginapan mewah yang biasanya disediakan oleh pemerintah Arab Saudi sesuai protokol kenegaraan.
Pemandangan itu sontak mengundang pertanyaan yang menyentuh hati para jamaah lainnya: "Di mana pengawalnya?"
Tidak ada iring-iringan kendaraan mewah. Tidak ada barisan pengawal ketat. Tidak pula ada jarak yang membatasi dirinya dengan rakyat biasa. Ouattara memilih tampil apa adanya—sama persis seperti jamaah lainnya.
Di balik kesederhanaannya, Presiden Ouattara dikenal sebagai pemimpin yang sukses membawa Pantai I Gading bangkit. Sejak ia memimpin, stabilitas keamanan dan politik berhasil dipulihkan, pertumbuhan ekonomi melesat signifikan, pendapatan masyarakat meningkat, pembangunan infrastruktur berjalan pesat, dan negaranya menjadi jauh lebih aman.
Banyak yang meyakini, pemimpin yang adil akan melahirkan rasa aman bagi rakyatnya. Dan orang yang menebarkan ketenangan kepada rakyatnya, Allah karuniakan ketenangan dalam hidupnya.
Pemandangan seorang presiden yang rela berbaring di tanah, tanpa kemewahan dan pengawal di Tanah Suci, menjadi pengingat bagi semua: di hadapan Allah, jabatan dan gemerlap dunia tidaklah berarti apa pun.(*/saf)
Pemimpin berusia 83 tahun itu datang ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dengan biaya pribadi. Bahkan, kabarnya ia dengan tegas menolak fasilitas istana dan penginapan mewah yang biasanya disediakan oleh pemerintah Arab Saudi sesuai protokol kenegaraan.
Pemandangan itu sontak mengundang pertanyaan yang menyentuh hati para jamaah lainnya: "Di mana pengawalnya?"
Tidak ada iring-iringan kendaraan mewah. Tidak ada barisan pengawal ketat. Tidak pula ada jarak yang membatasi dirinya dengan rakyat biasa. Ouattara memilih tampil apa adanya—sama persis seperti jamaah lainnya.
Di balik kesederhanaannya, Presiden Ouattara dikenal sebagai pemimpin yang sukses membawa Pantai I Gading bangkit. Sejak ia memimpin, stabilitas keamanan dan politik berhasil dipulihkan, pertumbuhan ekonomi melesat signifikan, pendapatan masyarakat meningkat, pembangunan infrastruktur berjalan pesat, dan negaranya menjadi jauh lebih aman.
Banyak yang meyakini, pemimpin yang adil akan melahirkan rasa aman bagi rakyatnya. Dan orang yang menebarkan ketenangan kepada rakyatnya, Allah karuniakan ketenangan dalam hidupnya.
Pemandangan seorang presiden yang rela berbaring di tanah, tanpa kemewahan dan pengawal di Tanah Suci, menjadi pengingat bagi semua: di hadapan Allah, jabatan dan gemerlap dunia tidaklah berarti apa pun.(*/saf)
(lam)