Kisah Kondisi Kesehatan Nabi Muhammad Memburuk Pasca-Haji Perpisahan
Miftah yusufpati
Jum'at, 29 Mei 2026 - 05:45 WIB
Sakitnya Nabi Muhammad pasca-Haji Perpisahan adalah tanda bahwa misi sejarah beliau telah mencapai titik jenuh yang sempurna. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Ketenangan Kota Madinah mendadak runtuh ketika sebuah kabar dari pembaringan Nabi Muhammad menyebar ke seluruh penjuru kota. Pemimpin tertinggi daulah Islam itu jatuh sakit. Bagi masyarakat Madinah, berita ini bukan sekadar kabar medis biasa, melainkan sebuah guncangan psikologis yang sangat masif.
Sepanjang sejarah, mereka terbiasa melihat sesosok pemimpin yang tangguh, tegak, dan seolah tidak tersentuh oleh kelemahan fisik. Ketika tubuh yang biasanya kokoh itu kini terbaring lemah, kekhawatiran yang mendalam segera menyelimuti hati para sahabat dan seluruh orang yang mencintainya.
Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, karya Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, dijelaskan bahwa jatuhnya sakit Nabi Muhammad merupakan hal yang sangat wajar jika melihat rekam jejak kehidupan beliau. Tubuh biologis Nabi telah mengalami tekanan, kesulitan, dan penderitaan hidup yang luar biasa selama dua puluh tahun secara terus-menerus tanpa jeda.
Sejak pertama kali Nabi Muhammad secara terang-terangan mengumandangkan dakwah di Makkah, mengajak masyarakat meninggalkan penyembahan berhala nenek moyang demi menyembah Allah Yang Maha Esa, beliau sudah dihadapkan pada perlawanan yang sangat kejam.
Tekanan jiwa dan fisik datang bertubi-tubi dari oligarki Quraisy. Kejamnya intimidasi tersebut bahkan memaksa Nabi untuk mengorbankan ikatan sosialnya, di mana beliau harus merelakan para sahabat gelombang pertama berhijrah menyelamatkan diri ke Abisinia (Etiopia). Sementara itu, Nabi sendiri harus bertahan di Makkah, mengungsi dan berlindung di celah-celah gunung yang gersang selama bertahun-tahun ketika pihak Quraisy memberlakukan boikot ekonomi dan sosial total terhadap Bani Hashim.
Kondisi tidak senantiasa membaik ketika Nabi memutuskan berhijrah dari Makkah ke Madinah pasca-Ikrar Aqabah. Perjalanan hijrah tersebut ditempuh dalam situasi yang sangat gawat, penuh risiko penangkapan, dan ancaman pembunuhan. Nabi melangkah ke utara tanpa kepastian mutlak mengenai apa yang akan terjadi terhadap dirinya di Madinah kelak.
Benar saja, pada tahun-tahun awal menetap di kota yang baru itu, Nabi tidak langsung mendapatkan ketenangan. Beliau justru menjadi sasaran utama dari berbagai bentuk kongkalikong, intrik politik, dan konspirasi bawah tanah yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok oposisi internal dan komunitas Yahudi lokal yang merasa dominasi ekonominya terancam oleh sistem baru Madinah.
Sepanjang sejarah, mereka terbiasa melihat sesosok pemimpin yang tangguh, tegak, dan seolah tidak tersentuh oleh kelemahan fisik. Ketika tubuh yang biasanya kokoh itu kini terbaring lemah, kekhawatiran yang mendalam segera menyelimuti hati para sahabat dan seluruh orang yang mencintainya.
Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, karya Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, dijelaskan bahwa jatuhnya sakit Nabi Muhammad merupakan hal yang sangat wajar jika melihat rekam jejak kehidupan beliau. Tubuh biologis Nabi telah mengalami tekanan, kesulitan, dan penderitaan hidup yang luar biasa selama dua puluh tahun secara terus-menerus tanpa jeda.
Sejak pertama kali Nabi Muhammad secara terang-terangan mengumandangkan dakwah di Makkah, mengajak masyarakat meninggalkan penyembahan berhala nenek moyang demi menyembah Allah Yang Maha Esa, beliau sudah dihadapkan pada perlawanan yang sangat kejam.
Tekanan jiwa dan fisik datang bertubi-tubi dari oligarki Quraisy. Kejamnya intimidasi tersebut bahkan memaksa Nabi untuk mengorbankan ikatan sosialnya, di mana beliau harus merelakan para sahabat gelombang pertama berhijrah menyelamatkan diri ke Abisinia (Etiopia). Sementara itu, Nabi sendiri harus bertahan di Makkah, mengungsi dan berlindung di celah-celah gunung yang gersang selama bertahun-tahun ketika pihak Quraisy memberlakukan boikot ekonomi dan sosial total terhadap Bani Hashim.
Kondisi tidak senantiasa membaik ketika Nabi memutuskan berhijrah dari Makkah ke Madinah pasca-Ikrar Aqabah. Perjalanan hijrah tersebut ditempuh dalam situasi yang sangat gawat, penuh risiko penangkapan, dan ancaman pembunuhan. Nabi melangkah ke utara tanpa kepastian mutlak mengenai apa yang akan terjadi terhadap dirinya di Madinah kelak.
Benar saja, pada tahun-tahun awal menetap di kota yang baru itu, Nabi tidak langsung mendapatkan ketenangan. Beliau justru menjadi sasaran utama dari berbagai bentuk kongkalikong, intrik politik, dan konspirasi bawah tanah yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok oposisi internal dan komunitas Yahudi lokal yang merasa dominasi ekonominya terancam oleh sistem baru Madinah.