Kisah Kesehatan Nabi Muhammad Memburuk Pasca-Pindah Perawatan ke Kediaman Aisyah
Miftah yusufpati
Jum'at, 29 Mei 2026 - 06:24 WIB
Dalam perspektif kedokteran modern, tindakan mengguyur tubuh yang sedang mengalami demam tinggi dengan air dari berbagai sumur dikenal sebagai metode eksternal cooling. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suasana di dalam kompleks perumahan istri-istri Nabi Muhammad di samping Masjid Nabawi mendadak berubah tegang pada awal tahun 11 Hijriah. Indikator klinis kesehatan pemimpin tertinggi Madinah itu menunjukkan pemburukan yang signifikan. Episode ini dimulai dengan sebuah interaksi domestik yang sangat manusiawi, yang terjadi persis keesokan harinya setelah kunjungan malam Nabi ke pekuburan Baqi al-Gharqad.
Ketika giliran waktu kunjungan Nabi Muhammad tiba di rumah Aisyah binti Abu Bakar, beliau mendapati istri mudanya itu sedang memegangi kepalanya sambil mengeluh karena serangan pusing yang hebat. Aisyah berulang kali berucap, "Aduh kepalaku!" Mendengar keluhan tersebut, Nabi Muhammad yang saat itu sebenarnya sudah mulai merasakan serangan demam di dalam tubuhnya merespons dengan kalimat penyeimbang. Beliau berkata, "Tetapi akulah, Aisyah, yang merasa sakit kepala."
Berdasarkan dokumen sejarah yang tertuang dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, karya Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, pada jam-jam pertama itu rasa sakit yang dialami Nabi belum berada pada level ekstrem. Kondisi fisiknya masih memungkinkan beliau untuk tidak terus-menerus berbaring di tempat tidur. Beliau bahkan masih sanggup berkeliling mengunjungi bilik istri-istrinya yang lain untuk sekadar bercengkerama, mencumbu, dan bergurau guna mencairkan suasana. Setiap kali Aisyah mengulangi keluhan sakit kepalanya, Nabi menyambutnya dengan kelakar yang memiliki dimensi teologis sekaligus romantis.
Nabi Muhammad melontarkan sebuah kalimat senda gurau, "Apa salahnya kalau engkau yang mati lebih dulu sebelum aku. Aku yang akan mengurusmu, mengafanimu, menyembahyangkan kau dan menguburkan kau!"
Mendengar kalimat tersebut, psikologi kewanitaan Aisyah yang masih sangat muda segera merespons dengan letupan cemburu yang khas, dikombinasikan dengan gairah besarnya terhadap kehidupan. Aisyah membalas ucapan Nabi dengan retorika yang tajam, "Dengan begitu yang lain mendapat nasib baik. Demi Allah, dengan apa yang sudah kaulakukan itu seolah engkau menyuruh aku pulang ke rumah dan dalam pada itu kau akan berpengantin baru dengan isteri-isterimu."
Mendengar reaksi cemburu dari Aisyah, Nabi Muhammad hanya bisa tersenyum. Namun, gurauan tersebut harus segera berakhir karena intensitas rasa sakit di kepala dan tubuh beliau tidak lagi mengizinkan adanya aktivitas yang menguras energi. Senda gurau di bilik Aisyah itu menjadi salah satu momen keceriaan terakhir sebelum fase kritis benar-benar melanda sang pembawa risalah.
Konsensus Domestik
Ketika giliran waktu kunjungan Nabi Muhammad tiba di rumah Aisyah binti Abu Bakar, beliau mendapati istri mudanya itu sedang memegangi kepalanya sambil mengeluh karena serangan pusing yang hebat. Aisyah berulang kali berucap, "Aduh kepalaku!" Mendengar keluhan tersebut, Nabi Muhammad yang saat itu sebenarnya sudah mulai merasakan serangan demam di dalam tubuhnya merespons dengan kalimat penyeimbang. Beliau berkata, "Tetapi akulah, Aisyah, yang merasa sakit kepala."
Berdasarkan dokumen sejarah yang tertuang dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, karya Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, pada jam-jam pertama itu rasa sakit yang dialami Nabi belum berada pada level ekstrem. Kondisi fisiknya masih memungkinkan beliau untuk tidak terus-menerus berbaring di tempat tidur. Beliau bahkan masih sanggup berkeliling mengunjungi bilik istri-istrinya yang lain untuk sekadar bercengkerama, mencumbu, dan bergurau guna mencairkan suasana. Setiap kali Aisyah mengulangi keluhan sakit kepalanya, Nabi menyambutnya dengan kelakar yang memiliki dimensi teologis sekaligus romantis.
Nabi Muhammad melontarkan sebuah kalimat senda gurau, "Apa salahnya kalau engkau yang mati lebih dulu sebelum aku. Aku yang akan mengurusmu, mengafanimu, menyembahyangkan kau dan menguburkan kau!"
Mendengar kalimat tersebut, psikologi kewanitaan Aisyah yang masih sangat muda segera merespons dengan letupan cemburu yang khas, dikombinasikan dengan gairah besarnya terhadap kehidupan. Aisyah membalas ucapan Nabi dengan retorika yang tajam, "Dengan begitu yang lain mendapat nasib baik. Demi Allah, dengan apa yang sudah kaulakukan itu seolah engkau menyuruh aku pulang ke rumah dan dalam pada itu kau akan berpengantin baru dengan isteri-isterimu."
Mendengar reaksi cemburu dari Aisyah, Nabi Muhammad hanya bisa tersenyum. Namun, gurauan tersebut harus segera berakhir karena intensitas rasa sakit di kepala dan tubuh beliau tidak lagi mengizinkan adanya aktivitas yang menguras energi. Senda gurau di bilik Aisyah itu menjadi salah satu momen keceriaan terakhir sebelum fase kritis benar-benar melanda sang pembawa risalah.
Konsensus Domestik