home masjid

Kisah Nabi Muhammad Memberikan Isyarat Kematian Melalui Dialog Rahasia Bersama Fatimah Az-Zahra

Sabtu, 30 Mei 2026 - 05:14 WIB
Aisyah yang menyaksikan fluktuasi emosional yang ekstrem tersebut diliputi rasa ingin tahu yang besar. Ilustrasi: Gemini AI
LANGIT7.ID-Kamar perawatan di rumah Aisyah binti Abu Bakar menjadi saksi bisu dari fase paling krusial dalam sejarah domestik kepemimpinan Madinah. Ketika seluruh kebijakan politik luar negeri dan konsolidasi militer internal telah dikunci melalui rangkaian instruksi mimbar, Nabi Muhammad kembali ke ruang privatnya. Di tempat ini, sisa energi kehidupan beliau dicurahkan untuk menguatkan pilar keluarga intinya. Fokus interaksi emosional tersebut terpusat sepenuhnya kepada Fatimah Az-Zahra, putri bungsu sekaligus satu-satunya anak kandung yang masih hidup sebagai garis keturunan langsung Rasulullah.

Kondisi klinis Nabi Muhammad pada hari-hari terakhir menjelang tahun 11 Hijriah berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Tubuh sang pemimpin didera oleh serangan demam tinggi yang ekstrem. Efek termal dari penyakit tersebut bahkan menembus lapisan kain selimut yang tebal.

Dokumen sejarah mencatat bahwa setiap istri maupun sahabat yang datang menjenguk dan meletakkan telapak tangan mereka di atas selimut luar akan langsung merasakan hawa panas yang menyengat dan meletihkan. Suhu tubuh yang melonjak di atas batas normal ini secara berkala membuat Nabi kehilangan kesadaran diri (delirium) sebelum akhirnya siuman kembali dalam kondisi fisik yang makin melemah.

Di tengah situasi darurat medis tersebut, Fatimah Az-Zahra mempertahankan rutinitas untuk datang menjenguk ayahnya setiap hari. Hubungan antara Nabi Muhammad dan Fatimah merupakan bentuk ikatan psikologis yang sangat mendalam antara seorang ayah dan anak perempuan tunggal.

Dalam kondisi sehat, setiap kali Fatimah memasuki ruangan, Nabi selalu berdiri dari tempat duduknya, berjalan menyambut sang putri, mencium keningnya, lalu menuntun tangan Fatimah untuk didudukkan di tempat yang sebelumnya ditempati oleh Nabi sendiri. Sebuah protokol kehormatan keluarga yang menembus batas formalitas budaya patriarki Arab pada masa itu.

Pergeseran protokol visual terjadi ketika penyakit Nabi sudah berada pada fase payah. Berdasarkan rekaman ilmiah yang tertuang dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, sebuah karya historiografi fundamental yang ditulis oleh Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, Fatimah datang mendekati tempat tidur ayahnya. Karena kondisi fisik Nabi yang sudah tidak mampu lagi untuk bangkit berdiri, Fatimah yang merunduk untuk mencium wajah ayahnya. Nabi kemudian menyambut kehadirannya dengan ucapan lirih, "Selamat datang, putriku." Nabi lalu meminta Fatimah untuk duduk tepat di samping posisi berbaringnya.

Tangis dan Tawa di Samping Tempat Tidur
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya