home masjid

Wafatnya Rasulullah SAW

Menjelang Wafat, Nabi Muhammad Perintahkan Sedekah Seluruh Sisa Harta Tujuh Dinar

Ahad, 31 Mei 2026 - 06:12 WIB
Seorang pembawa risalah menolak keras konsep akumulasi kekayaan pribadi hingga akhir hayatnya. Ilustrasi: Gemini AI
LANGIT7.ID- Fase akhir kepemimpinan di Kota Madinah tidak hanya diuji oleh ketegangan suksesi politik dan konsolidasi militer. Di dalam kamar perawatan yang bersahaja di rumah Aisyah binti Abu Bakar, sebuah dinamika domestik yang sarat dengan dimensi akuntabilitas publik sedang berlangsung. Ketika infeksi dan demam tinggi terus menggerogoti pertahanan fisik Nabi Muhammad menjelang awal tahun 11 Hijriah, perhatian sang pemimpin tertuju pada kepemilikan harta pribadi yang masih tersisa di dalam rumahnya. Harta tersebut berupa uang tunai senilai tujuh dinar.

Jumlah tujuh dinar emas pada masa itu setara dengan nilai ekonomi yang cukup signifikan untuk ukuran domestik Madinah, namun tergolong sangat bersahaja bagi seorang kepala negara yang menguasai seluruh Jazirah Arab. Ketika tanda-tanda klinis dari penyakitnya mulai terasa berat, muncul kekhawatiran personal yang mendalam dari diri Nabi Muhammad. Beliau merasa cemas jika ajal menjemput sementara aset finansial tersebut masih berada di bawah penguasaan pribadinya. Atas dasar kesadaran tersebut, Nabi Muhammad mengeluarkan instruksi administratif kepada keluarga intinya untuk segera menyedekahkan seluruh uang dinar tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan.

Namun, pelaksanaan instruksi tersebut tidak berjalan mulus karena faktor kedaruratan medis. Kesibukan luar biasa dari pihak keluarga dalam merawat, mengurus, dan memantau kondisi fisik Nabi yang terus menurun secara drastis membuat perintah eksekusi keuangan itu terlupakan. Fluktuasi suhu tubuh yang melonjak di atas batas normal secara berkala membuat Nabi kehilangan kesadaran diri (delirium), sehingga perhatian seluruh penghuni rumah tercurah sepenuhnya pada penanganan termoregulasi dan penyelamatan klinis darurat.

Konfirmasi Finansial Pasca-Delirium

Memasuki hari Minggu, tepat sehari sebelum hari wafatnya, sebuah momentum krusial terjadi ketika Nabi Muhammad kembali siuman dan mendapatkan kesadaran penuh dari fase pingsannya. Hal pertama yang menjadi fokus perhatian beliau bukan mengenai peta kekuatan militer di perbatasan Syam atau stabilitas politik Madinah, melainkan kepastian status hukum dari tujuh dinar tersebut.

Berdasarkan rekaman ilmiah yang tertuang dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, sebuah karya historiografi fundamental yang ditulis oleh Dr. Muhammad Husain Haekal dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, Nabi langsung melontarkan pertanyaan interogatif kepada keluarga yang berada di samping tempat tidurnya.

Nabi bertanya mengenai apa yang telah mereka lakukan terhadap uang dinar tersebut. Aisyah kemudian memberikan jawaban jujur bahwa sisa aset finansial itu ternyata masih tersimpan dengan utuh di dalam tangannya karena kelalaian yang tidak disengaja selama masa krisis medis. Mendengar konfirmasi tersebut, Nabi Muhammad meminta agar uang logam emas itu segera dibawakan dan diletakkan secara langsung di atas telapak tangannya yang sudah semakin melemah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya