home masjid

Ibadah Haji Menjadi Instrumen Penghapusan Sekat Geopolitik dan Diskriminasi Rasial Global

Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:52 WIB
Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat padang Arafah, jutaan manusia bergerak bersama dalam satu gelombang yang teratur. Ist
LANGIT7.ID-Seorang lelaki bertubuh jangkung dengan kulit legam berdiri mematung di bawah terik matahari yang menyengat. Di sampingnya, seorang pria bermata sipit dengan kulit putih bersih sedang bersujud, merapatkan dahinya ke hamparan pasir yang hangat. Keduanya tidak saling mengenal bahasa masing-masing.

Lelaki pertama datang dari sebuah desa terpencil di pedalaman benua Afrika, sementara pria kedua menempuh penerbangan belasan jam dari pusat kota metropolitan di Asia Timur. Hari itu, identitas paspor, perbedaan warna kulit, dan sekat kelas sosial yang selama ini melekat ketat pada diri mereka runtuh seketika. Mereka menanggalkan pakaian kebesaran duniawi, lalu menggantinya dengan dua lembar kain putih tanpa jahitan yang serupa. Di tempat ini, geopolitik global tidak lagi memiliki kuasa untuk memilah manusia ke dalam kotak-kotak kepentingan nasional.

Muhammad Husain Haekal dalam karya sejarahnya yang fenomenal, Sejarah Hidup Muhammad, mengulas secara mendalam bagaimana Islam merombak konsep sekat wilayah tersebut. Dalam buku cetakan kelima tahun 1980 yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya dan diterjemahkan oleh Ali Audah, Haekal menegaskan sebuah prinsip universal.

Dalam Islam, rasa cinta demikian ini tidak seharusnya akan terhenti pada batas-batas tanah air tertentu, atau hanya terbatas pada salah satu benua. Yang seharusnya bahkan tidak boleh mengenal batas sama sekali.

Prinsip kemanusiaan tanpa batas ini bukan sekadar konsep teoretis. Haekal menjelaskan bahwa dari seluruh pelosok bumi manusia harus saling mengenal, supaya satu sama lain dapat menambah rasa cinta kepada Allah, dan rasa cinta ini akan menambah tebal iman mereka kepada Allah. Untuk merealisasikan tujuan tersebut, manusia dari segenap penjuru bumi harus berkumpul dalam satu irama yang sama, tanpa diskriminasi. Tempat berkumpul yang terbaik untuk itu ialah di tempat memancarnya cinta ini, yaitu Baitullah di Mekah melalui ibadah haji.

Kesetaraan Global

Pertemuan akbar lintas benua ini membutuhkan regulasi etika yang sangat ketat agar tujuan persaudaraan universal dapat tercapai. Al-Quran mendesain ibadah haji bukan sekadar sebagai ritual fisik, melainkan sebagai ruang pelatihan moral untuk mengikis konflik horizontal yang biasa terjadi di dunia sekuler. Aturan hukum mengenai masa pengekangan ego ini tertuang dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 197.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya