Rapuhnya Jalan Pintas Menuju Sukses: Krisis Moralitas Sekuler Dipicu oleh Etika Transaksional
Miftah yusufpati
Ahad, 14 Juni 2026 - 04:25 WIB
Orang yang jujur karena keyakinan rohani memandang kebenaran sebagai bagian dari kehormatan dirinya sebagai manusia yang terikat langsung dengan imannya kepada Allah. AI
LANGIT7.ID-Seorang pria bermerek pakaian mewah keluar dari lobi gedung bertingkat di kawasan segi tiga emas Jakarta dengan kepala tertunduk. Tangannya diborgol, dibalut rompi oranye khas tahanan komisi antikorupsi. Beberapa bulan sebelum malam penangkapan itu, ia dikenal publik sebagai sosok dermawan. Ia rajin menyumbang ke berbagai panti asuhan, kerap tampil di seminar kepemimpinan, dan mengampanyekan pentingnya integritas bisnis di media sosial.
Di atas panggung, ia tampak bagai manusia tanpa cela. Namun, di balik ruang interogasi, tabir itu robek. Seluruh tindakan baik yang ia pamerkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah instrumen pemasaran untuk menggalang modal dan mengamankan proyek pemerintah.
Ketika sebuah peluang lancung dengan keuntungan miliaran rupiah datang tanpa pengawasan, benteng moralnya runtuh tanpa sisa. Tragedi kejatuhan figur publik seperti ini bukan lagi anomali, melainkan gejala klinis dari sebuah peradaban yang meletakkan fondasi etika di atas kalkulasi transaksional.
Dilema moralitas modern ini berakar pada kerapuhan motif di dalam batin manusia. Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad, mengupas tuntas kepalsuan etika transaksional tersebut. Dalam buku cetakan kelima tahun 1980 yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya dan diterjemahkan oleh Ali Audah, Haekal menegaskan bahwa ciri-ciri khas watak dan etika yang menjadi landasan budi-pekerti dan pendidikan akhlak yang murni itu dasarnya ialah disiplin rohani seperti yang ditentukan oleh Al-Quran dan yang bertalian pula dengan iman kepada Allah.
Sistem ini menjadi satu-satunya jaminan agar moralitas dalam jiwa manusia tetap bersih dari segala noda dan jauh dari penyusupan kepentingan pragmatis.
Menurut Haekal, moral yang dasarnya memperhitungkan untung-rugi akan segera bergeser ketika pelakunya yakin bahwa pelanggaran moral tidak akan mengganggu keuntungan pribadinya.
Orang dengan tipe moralitas seperti ini memiliki sikap luar yang berbeda dengan isi hati. Keadaan yang disembunyikan berbeda dengan yang diperlihatkan kepada publik. Mereka berpura-pura jujur dan benar hanya untuk menjadikannya tameng atau alat memancing keuntungan materiil. Ketika dihadapkan pada godaan kekuasaan atau harta, kelompok ini sangat mudah lemah dan terbawa arus nafsu.
Di atas panggung, ia tampak bagai manusia tanpa cela. Namun, di balik ruang interogasi, tabir itu robek. Seluruh tindakan baik yang ia pamerkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah instrumen pemasaran untuk menggalang modal dan mengamankan proyek pemerintah.
Ketika sebuah peluang lancung dengan keuntungan miliaran rupiah datang tanpa pengawasan, benteng moralnya runtuh tanpa sisa. Tragedi kejatuhan figur publik seperti ini bukan lagi anomali, melainkan gejala klinis dari sebuah peradaban yang meletakkan fondasi etika di atas kalkulasi transaksional.
Dilema moralitas modern ini berakar pada kerapuhan motif di dalam batin manusia. Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad, mengupas tuntas kepalsuan etika transaksional tersebut. Dalam buku cetakan kelima tahun 1980 yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya dan diterjemahkan oleh Ali Audah, Haekal menegaskan bahwa ciri-ciri khas watak dan etika yang menjadi landasan budi-pekerti dan pendidikan akhlak yang murni itu dasarnya ialah disiplin rohani seperti yang ditentukan oleh Al-Quran dan yang bertalian pula dengan iman kepada Allah.
Sistem ini menjadi satu-satunya jaminan agar moralitas dalam jiwa manusia tetap bersih dari segala noda dan jauh dari penyusupan kepentingan pragmatis.
Menurut Haekal, moral yang dasarnya memperhitungkan untung-rugi akan segera bergeser ketika pelakunya yakin bahwa pelanggaran moral tidak akan mengganggu keuntungan pribadinya.
Orang dengan tipe moralitas seperti ini memiliki sikap luar yang berbeda dengan isi hati. Keadaan yang disembunyikan berbeda dengan yang diperlihatkan kepada publik. Mereka berpura-pura jujur dan benar hanya untuk menjadikannya tameng atau alat memancing keuntungan materiil. Ketika dihadapkan pada godaan kekuasaan atau harta, kelompok ini sangat mudah lemah dan terbawa arus nafsu.