home masjid

Sains Al-Quran: Tidak Ada Pemisahan Wahyu dan Riset Empiris Alam Semesta

Senin, 15 Juni 2026 - 05:00 WIB
Sains Islam kuno mampu mencapai puncak keemasan karena para ilmuwan Islam memandang riset alam sebagai bentuk ibadah intelektual. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Seorang astronom duduk terpaku di depan monitor ruang kendali observatorium digital di kawasan Bandung, Juni 2026. Di atas layarnya, teleskop optik bersensor mutakhir baru saja menangkap pancaran data citra pembentukan rasi bintang di gugusan galaksi jauh.

Pada saat yang sama, ratusan mil dari sana, kapal riset kelautan milik negara sedang menurunkan wahana selam tanpa awak untuk memetakan potensi energi di dasar palung samudra.

Dua aktivitas ilmiah ini kerap dipandang oleh masyarakat modern sebagai kegiatan sekuler murni. Padahal, bagi nalar teologi Islam, pencarian data empiris tersebut merupakan bentuk kepatuhan paling mendasar terhadap perintah teks suci.

Eksplorasi ilmiah terhadap rahasia kosmos ini bukanlah agenda baru yang terpisah dari iman. Relasi kausalitas antara teks wahyu dan dorongan riset alam dibedah secara tajam dalam buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal.

Dalam bukuyang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya ini, Haekal menjelaskan bahwa Al-Quran berbicara tentang seluruh ciptaan Tuhan di alam ini dengan suatu pengarahan logis. Pengarahan tersebut sengaja didesain untuk mengantarkan kapasitas kognitif manusia sejauh mungkin menuju batas pengetahuan yang dapat dicapai.

Perintah Observasi Alam

Haekal memaparkan data mengenai spektrum obyek material yang disebut secara eksplisit dalam Al-Quran. Teks suci berbicara secara detail mengenai fase bulan pada hari pertama, pergerakan berkala matahari dan bulan, serta mekanisme pergantian siang dan malam.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya