LANGIT7.ID-Seorang astronom duduk terpaku di depan monitor ruang kendali observatorium digital di kawasan Bandung, Juni 2026. Di atas layarnya, teleskop optik bersensor mutakhir baru saja menangkap pancaran data citra pembentukan rasi bintang di gugusan galaksi jauh.
Pada saat yang sama, ratusan mil dari sana, kapal riset kelautan milik negara sedang menurunkan wahana selam tanpa awak untuk memetakan potensi energi di dasar palung samudra.
Dua aktivitas ilmiah ini kerap dipandang oleh masyarakat modern sebagai kegiatan sekuler murni. Padahal, bagi nalar teologi Islam, pencarian data empiris tersebut merupakan bentuk kepatuhan paling mendasar terhadap perintah teks suci.
Eksplorasi ilmiah terhadap rahasia kosmos ini bukanlah agenda baru yang terpisah dari iman. Relasi kausalitas antara teks wahyu dan dorongan riset alam dibedah secara tajam dalam buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal.
Dalam buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya ini, Haekal menjelaskan bahwa Al-Quran berbicara tentang seluruh ciptaan Tuhan di alam ini dengan suatu pengarahan logis. Pengarahan tersebut sengaja didesain untuk mengantarkan kapasitas kognitif manusia sejauh mungkin menuju batas pengetahuan yang dapat dicapai.
Perintah Observasi AlamHaekal memaparkan data mengenai spektrum obyek material yang disebut secara eksplisit dalam Al-Quran. Teks suci berbicara secara detail mengenai fase bulan pada hari pertama, pergerakan berkala matahari dan bulan, serta mekanisme pergantian siang dan malam.
Al-Quran juga mengarahkan perhatian manusia pada bumi beserta pelbagai komoditas hayati yang dihasilkannya, struktur langit yang dihiasi miliaran bintang, hingga bentangan samudra luas yang diarungi oleh kapal-kapal besar. Seluruh fasilitas kosmologis ini disediakan agar manusia dapat menikmati karunia ekonomi Tuhan secara maksimal.
Lebih lanjut, Al-Quran juga mengulas eksistensi binatang beban, hewan ternak, hingga metodologi ilmu pengetahuan beserta seluruh cabangnya yang tersebar di alam semesta.
Al-Quran tidak sekadar menyebut objek-objek tersebut sebagai hiasan retoris. Kitab suci memerintahkan manusia secara kaku untuk melakukan perenungan, observasi, dan studi mendalam terhadap semua fenomena fisik tersebut.
Melalui aktivitas ilmiah ini, manusia didorong untuk menikmati peninggalan dan hasil riset sebagai bentuk manifestasi syukur yang substantif kepada Allah SWT. Aturan mengenai kewajiban observasi kosmos ini terekam jelas dalam Al-Quran Surah Yunus ayat 101:
قُلِ انْظُرُوْا مَاذَا فِي السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَمَا تُغْنِي الْاٰيٰتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَArtinya:
Katakanlah, "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi! Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman."
Fondasi Etika KeilmuanKetika Al-Quran telah mengajarkan etika ilmiah tersebut kepada umat manusia, muncul konsekuensi logis bagi peradaban. Islam menganjurkan pemeluknya untuk terus berusaha tanpa henti guna mengetahui hukum alam (sunnatullah) yang mengendalikan kosmos ini. Haekal memberikan argumen bahwa sudah sepatutnya dari hasil pengamatan yang digerakkan oleh akal pikiran itu, manusia akan sampai pada tujuan hakiki sejauh yang dapat ditangkap oleh kapasitas rasionalnya.
Dampak langsung dari penguasaan sains alam ini adalah lahirnya kemakmuran material yang berkeadilan. Haekal menegaskan bahwa sudah seharusnya manusia membangun sistem ekonominya di atas dasar yang sempurna melalui pemanfaatan data ilmiah alam tersebut. Kesejahteraan ekonomi tidak mungkin dicapai melalui taklid atau spekulasi mistis yang kering dari riset empiris.
Penguasaan atas jalur pelayaran samudra, tata kelola pertanian bumi, dan pemahaman navigasi astronomi adalah pilar utama untuk mendirikan struktur finansial negara yang tangguh dan mandiri.
Tesis Haekal mengenai integrasi antara riset alam dan teologi emansipatoris ini sejalan dengan teori epistemologi yang dirumuskan oleh fisikawan muslim dunia, Prof. Dr. Mohammad Abdus Salam. Dalam studinya yang dipublikasikan dalam
Ideals and Realities: Selected Essays of Abdus Salam (1987), peraih hadiah Nobel Fisika tersebut menyajikan data statistik bahwa sepertapan bagian dari teks Al-Quran memuat perintah langsung bagi umat beriman untuk mempelajari fenomena alam.
Abdus Salam berargumen bahwa kemunduran ekonomi dan politik dunia Islam pada era modern disebabkan oleh munculnya dikotomi keliru yang memisahkan antara ilmu agama (
tafaqquh fiddin) dan ilmu alam (sains). Pengabaian terhadap riset empiris fisika dan matematika merupakan bentuk pengingkaran terhadap perintah syariat.
Pandangan ini diperkuat oleh analisis filsuf sains Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr dalam karyanya
Science and Civilization in Islam (1968). Nasr menjelaskan bahwa sains Islam kuno mampu mencapai puncak keemasan karena para ilmuwan seperti Ibnu Sina dan Al-Biruni memandang riset alam sebagai bentuk ibadah intelektual. Penyelidikan terhadap anatomi tumbuhan atau lintasan planet dilakukan untuk membaca ayat-ayat Tuhan yang tersurat di alam makrokosmos, sehingga hasil penemuannya selalu diikat oleh nilai etika kemanusiaan.
Sementara itu, dalam sebuah kuliah ilmiah yang diunggah oleh kanal YouTube resmi Zaytuna College (2025), Syekh Hamza Yusuf mengkritik keras mentalitas sebagian masyarakat muslim modern yang cenderung bersikap pasif dan fatalistik terhadap perkembangan teknologi. Yusuf menyajikan data sejarah ekonomi yang menunjukkan bahwa negara yang menguasai riset oseanografi dan ketahanan pangan berbasis sains selalu menjadi pemimpin peradaban.
Yusuf menegaskan kembali poin pemikiran Haekal bahwa Al-Quran menuntut manusia menjadi khalifah yang memakmurkan bumi dengan instrumen rasionalitas yang terbimbing wahyu.
Melalui akun resmi media sosial X pada awal tahun 2026, intelektual muslim Dr. Tariq Ramadan juga merilis sebuah utas argumentatif mengenai teologi pembangunan. Ramadan menulis bahwa sistem ekonomi yang sempurna tidak akan pernah terwujud selama umat Islam hanya memposisikan alam sebagai objek eksploitasi kapitalistik tanpa pemahaman ekologis yang mendalam.
Al-Quran menyebut kapal yang berlayar dan laut yang tunduk sebagai isyarat agar manusia mengembangkan teknologi transportasi dan perdagangan yang selaras dengan hukum alam. Integritas iman wajib divalidasi melalui kontribusi nyata dalam melahirkan inovasi teknologi yang mampu mengentaskan kemiskinan dan menjaga kelestarian bumi.
Kembali ke ruang observatorium di Bandung, sang astronom menyandarkan punggungnya seraya mengucap hamdalah setelah berhasil mengunci koordinat objek langit yang ditelitinya. Melalui pemahaman yang komprehensif atas lintasan sejarah yang ditulis oleh Haekal dan para pemikir dunia, benderanglah sudah bahwa sains dan iman bukanlah dua entitas yang saling menegasikan.
Al-Quran sejak awal telah membentangkan jagat raya ini sebagai laboratorium besar yang wajib dibaca, diteliti, dan dikelola oleh akal manusia. Menolak riset empiris atas fenomena alam sama saja dengan menutup mata dari tanda-tanda kebesaran Pencipta. Hanya dengan mengintegrasikan ketajaman rasio ilmiah dan kesucian spiritual, umat manusia dapat merancang sistem ekonomi yang sempurna serta menegakkan peradaban yang berdaulat di atas bumi Tuhan.
(mif)