Rekam Jejak Sosiopolitik Umar bin Khattab dalam Mempertahankan Teologi Quraisy di Masa Jahiliah
Miftah yusufpati
Selasa, 16 Juni 2026 - 03:30 WIB
Karakter tegar yang tadinya digunakan untuk memproteksi berhala, bertransformasi menjadi pilar utama yang menegakkan struktur hukum dan kedaulatan peradaban Islam. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Terik matahari Makkah membakar pasir, namun tensi politik di dalam sirkuit kekuasaan suku Quraisy jauh lebih panas. Di salah satu sudut kota, seorang pemuda bertubuh tegap dan kekar tampak sedang meluapkan kemarahannya. Usianya belum genap dua puluh lima tahun.
Pemuda itu, Umar bin Khattab, sedang memburu siapa saja dari kalangan sukunya yang berani menyatakan keluar dari agama leluhur.
Dengan watak yang tegar, kasar, dan cepat naik darah, Umar muda tidak mengenal kata kompromi. Tangannya siap memukul dan lidahnya siap menghunjamkan makian kepada kaum Sabi', sebutan bagi mereka yang meninggalkan penyembahan berhala.
Bagi Umar saat itu, mempertahankan teologi berhala bukan sekadar urusan mistisisme, melainkan urusan harga diri dan eksistensi politik sebuah bangsa.
Sejarah peradaban dunia sebenarnya selalu diombang-ambingkan oleh tata hubungan antara dua masalah pokok: kebebasan pribadi dan organisasi sosial.
Sebuah masyarakat hanya dapat hidup jika memiliki organisasi atau keteraturan sosial. Di sisi lain, tidak akan ada kehidupan pribadi yang bermakna tanpa adanya kebebasan.
Ketika dua kutub ini bertabrakan, sebuah bangsa dipaksa memilih mana yang harus didukung. Dalam kacamata sosiologis, organisasi sosial sering kali harus diutamakan, sebab kebebasan pribadi tidak akan pernah terjamin tanpa adanya sistem sosial yang stabil.
Pemuda itu, Umar bin Khattab, sedang memburu siapa saja dari kalangan sukunya yang berani menyatakan keluar dari agama leluhur.
Dengan watak yang tegar, kasar, dan cepat naik darah, Umar muda tidak mengenal kata kompromi. Tangannya siap memukul dan lidahnya siap menghunjamkan makian kepada kaum Sabi', sebutan bagi mereka yang meninggalkan penyembahan berhala.
Bagi Umar saat itu, mempertahankan teologi berhala bukan sekadar urusan mistisisme, melainkan urusan harga diri dan eksistensi politik sebuah bangsa.
Sejarah peradaban dunia sebenarnya selalu diombang-ambingkan oleh tata hubungan antara dua masalah pokok: kebebasan pribadi dan organisasi sosial.
Sebuah masyarakat hanya dapat hidup jika memiliki organisasi atau keteraturan sosial. Di sisi lain, tidak akan ada kehidupan pribadi yang bermakna tanpa adanya kebebasan.
Ketika dua kutub ini bertabrakan, sebuah bangsa dipaksa memilih mana yang harus didukung. Dalam kacamata sosiologis, organisasi sosial sering kali harus diutamakan, sebab kebebasan pribadi tidak akan pernah terjamin tanpa adanya sistem sosial yang stabil.