Tidak Tepat Konteks: Meminta Jabatan Berdalih Meniru Nabi Yusuf
Miftah yusufpati
Jum'at, 19 Juni 2026 - 04:00 WIB
Seorang alim boleh merekomendasikan dirinya jika tujuannya adalah kemaslahatan agama sesuai kapasitasnya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di sebuah ruangan ber-AC di kawasan Jakarta Pusat, menjelang pemilu, beberapa pengurus partai politik berkumpul. Di atas meja, menumpuk berkas pendaftaran bakal calon kepala daerah dan anggota legislatif. Salah seorang fungsionaris meyakinkan rekannya yang ragu untuk maju dalam pemilihan. Ia menggunakan argumentasi keagamaan bahwa meminta jabatan diperbolehkan, seperti yang dilakukan oleh Nabi Yusuf di Mesir.
Fenomena ini jamak dijumpai menjelang kontestasi politik di tanah air. Banyak aktivis politik mengandalkan keimanan dan terlalu percaya diri saat mengejar kekuasaan. Mereka merasa kuat memegang kebenaran, namun kerap melebur dalam sistem hukum buatan manusia yang sekuler. Alasan mengejar kemaslahatan dakwah sering dijadikan tameng untuk memburu kursi pemerintahan.
Dalih mengambil kekuasaan dengan merujuk pada kisah Nabi Yusuf sering kali tidak tepat konteks. Dalam Al-Quran, Nabi Yusuf sesungguhnya tidak pernah meminta jabatan sejak awal. Penguasa Mesir yang lebih dahulu menawarkan kedudukan kepadanya setelah melihat kapasitas dan integritasnya. Tawaran itu datang tanpa ada pemaksaan, penyingkiran, ataupun tawar-menawar politik yang transaksional.
Allah menceritakan peristiwa tersebut dalam firman-Nya:
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Dan Raja berkata: Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku. Maka tatkala Raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami. Berkata Yusuf: Jadikanlah aku bendaharawan negara Mesir, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan. (QSSurat Yusuf ayat 54 dan 55)
Rambu Syariat dan Konstitusi
Fenomena ini jamak dijumpai menjelang kontestasi politik di tanah air. Banyak aktivis politik mengandalkan keimanan dan terlalu percaya diri saat mengejar kekuasaan. Mereka merasa kuat memegang kebenaran, namun kerap melebur dalam sistem hukum buatan manusia yang sekuler. Alasan mengejar kemaslahatan dakwah sering dijadikan tameng untuk memburu kursi pemerintahan.
Dalih mengambil kekuasaan dengan merujuk pada kisah Nabi Yusuf sering kali tidak tepat konteks. Dalam Al-Quran, Nabi Yusuf sesungguhnya tidak pernah meminta jabatan sejak awal. Penguasa Mesir yang lebih dahulu menawarkan kedudukan kepadanya setelah melihat kapasitas dan integritasnya. Tawaran itu datang tanpa ada pemaksaan, penyingkiran, ataupun tawar-menawar politik yang transaksional.
Allah menceritakan peristiwa tersebut dalam firman-Nya:
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Dan Raja berkata: Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku. Maka tatkala Raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami. Berkata Yusuf: Jadikanlah aku bendaharawan negara Mesir, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan. (QSSurat Yusuf ayat 54 dan 55)
Rambu Syariat dan Konstitusi