Sengkarut Doktrin dan Tradisi di Seputar 10 Muharam
Miftah yusufpati
Jum'at, 26 Juni 2026 - 05:00 WIB
Pada hari yang sama, ratapan massal melengking di jalan-jalan kota Karbala, Irak. Foto: Tehran Times
LANGIT7.ID-Aroma rempah dan kepulan asap dari kuali-kuali besar tercium di selasar sejumlah masjid di pesisir nusantara setiap kali tanggal10 Muharam tiba. Masyarakat sibuk mengaduk bubur syura, sebuah hidangan komunal yang diyakini sebagai simbol keselamatan dan rasa syukur.
Namun, ribuan kilometer dari tempat itu, pada hari yang sama, ratapan massal melengking di jalan-jalan kota Karbala, Irak. Ribuan orang berbaju hitam menangis sembari memukul dada, meratapi darah yang tumpah dari leher Husain bin Ali lebih dari 1400 tahun silam.
Satu hari dalam kalender penanggalan Islam, namun dirayakan dengan dua wajah psikologis yang berlawanan secara diametral. Realitas ini menunjukkan bahwa Asyura bukan sekadar urusan penanggalan, melainkan sebuah ruang temu yang rumit antara tafsir doktrin, fakta historis, dan ekspresi antropologis.
Bagi umat Islam, hari kesepuluh pada bulan Muharam ini memang menyimpan memori kolektif yang berlapis. Polarisasi cara pandang ini membagi ingatan umat menjadi dua kutub besar.
Kalangan Syiah menempatkan Asyura sebagai puncak duka cita atas tragedi pembantaian cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali, bersama keluarganya dalam peristiwa Karbala pada tahun 61 Hijriah atau 680 Masehi. Sementara itu, di dalam tradisi Sunni, Asyura dibaca melalui tiga kacamata sekaligus, yakni teks hadis atau doktrin, kronik historis, dan praktik budaya masyarakat.
Tatanan teologis normatif mengenai anjuran berpuasa pada hari tersebut merujuk pada beberapa korpus hadis sahih. Landasan normatif ini terekam jelas dalam sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mengenai keutamaan puasa Asyura:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Namun, ribuan kilometer dari tempat itu, pada hari yang sama, ratapan massal melengking di jalan-jalan kota Karbala, Irak. Ribuan orang berbaju hitam menangis sembari memukul dada, meratapi darah yang tumpah dari leher Husain bin Ali lebih dari 1400 tahun silam.
Satu hari dalam kalender penanggalan Islam, namun dirayakan dengan dua wajah psikologis yang berlawanan secara diametral. Realitas ini menunjukkan bahwa Asyura bukan sekadar urusan penanggalan, melainkan sebuah ruang temu yang rumit antara tafsir doktrin, fakta historis, dan ekspresi antropologis.
Bagi umat Islam, hari kesepuluh pada bulan Muharam ini memang menyimpan memori kolektif yang berlapis. Polarisasi cara pandang ini membagi ingatan umat menjadi dua kutub besar.
Kalangan Syiah menempatkan Asyura sebagai puncak duka cita atas tragedi pembantaian cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali, bersama keluarganya dalam peristiwa Karbala pada tahun 61 Hijriah atau 680 Masehi. Sementara itu, di dalam tradisi Sunni, Asyura dibaca melalui tiga kacamata sekaligus, yakni teks hadis atau doktrin, kronik historis, dan praktik budaya masyarakat.
Tatanan teologis normatif mengenai anjuran berpuasa pada hari tersebut merujuk pada beberapa korpus hadis sahih. Landasan normatif ini terekam jelas dalam sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mengenai keutamaan puasa Asyura:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ