home wirausaha syariah

Pengajian Umum PP Muhammadiyah

Dinilai Tidak Likuid dan Berfokus pada Sektor Riil, Investasi Muhammadiyah Berisiko Tinggi

Sabtu, 27 Juni 2026 - 05:00 WIB
Amri Yusuf, dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah bertemakan Resiliensi Keuangan: Mencari Model Penguatan Ekonomi Ormas pada Jumat, 26 Juni 2026. Foto: Ist
LANGIT7.ID — Strategi investasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang terlalu berfokus pada sektor riil (direct investment) disorot tajam karena dinilai memiliki risiko tinggi dan tidak likuid di tengah nilai pasar asetnya yang kini menembus Rp450 triliun.

Kritik sekaligus analisis tersebut disampaikan oleh perwakilan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Amri Yusuf, dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah bertemakan "Resiliensi Keuangan: Mencari Model Penguatan Ekonomi Ormas" pada Jumat, 26 Juni 2026. Dalam acara yang disiarkan langsung melalui TV Muhammadiyah (TVMU) tersebut, ia mengingatkan organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia ini agar tidak menaruh seluruh telur dalam satu keranjang yang sama.

Amri mengapresiasi kapasitas Muhammadiyah yang dinilainya sudah "fasih korporasi" karena mengelola ratusan amal usaha berupa universitas, rumah sakit, sekolah, hingga aset properti berorientasi nilai pasar tinggi, seperti di kawasan Menteng, Jakarta. Namun, dari perspektif manajemen portofolio investasi, model bisnis yang didominasi oleh investasi langsung menuntut konsekuensi berat jika terjadi guncangan likuiditas.

"Aset properti dan investasi langsung itu bagus karena menyerap tenaga kerja dan membantu ekonomi masyarakat. Namun, bagi pengelola investasi, jenis ini berisiko tinggi dan tidak likuid. Kalau Muhammadiyah mendadak butuh uang, aset-aset itu tidak bisa dijual seketika," ujar Amri di hadapan Bendahara Umum PP Muhammadiyah Profesor Hilman Latief dan para pimpinan persyarikatan.

Ia menambahkan bahwa ekspansi sektor riil selalu membutuhkan injeksi modal operasional dalam jumlah besar. Berbeda dengan korporasi atau lembaga investasi negara seperti BPKH, Taspen, dan Jamsostek yang ketat menuntut imbal hasil positif (return), tingkat risiko pembangunan di Muhammadiyah selama ini berhasil dimitigasi karena adanya faktor instrumen keagamaan, yakni ketergantungan pada tanah dan dana wakaf masyarakat secara mandiri.

Dorong Diversifikasi

Sebagai solusi penguatan resiliensi keuangan jangka panjang, Amri menyarankan Muhammadiyah melakukan diversifikasi portofolio aset dan mulai bergeser ke instrumen pasar keuangan. Ia memberikan contoh tolok ukur (benchmark) organisasi keagamaan global seperti Gereja Mormon yang masuk ke instrumen investasi modern demi menjaga ketahanan organisasi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya