Meng-AI-kan Perguruan Tinggi Menuju Lulusan AI-Friendly
Tim langit 7
Senin, 29 Juni 2026 - 09:56 WIB
Meng-AI-kan Perguruan Tinggi Menuju Lulusan AI-Friendly
Oleh: Prof Dr Bambang Setiaji
LANGIT7.ID-Perguruan tinggi sampai sekarang belum bisa menerima AI dengan jujur. Contohnya jurnal ilmiah. AI masih dianggap haram, kecuali untuk pekerjaan teknis seperti grammar. Padahal dunia sudah berubah, tetapi kampus masih bertahan pada aturan lama.
Skripsi, tesis, dan disertasi juga demikian. Terjadi kucing-kucingan. Mahasiswa melihat hasil AI lebih dahulu, lalu mengetik ulang dengan bahasanya sendiri agar tidak terdeteksi. Semua orang tahu praktik ini terjadi, tetapi semua berpura-pura tidak tahu. Ini memalukan bagi dunia akademik.
Kita juga perlu bertanya, mengapa mahasiswa harus membaca dari A sampai Z literature review yang sebenarnya sudah dapat dikerjakan AI? Bukankah waktu itu lebih baik dipakai untuk berpikir, mengkritik, menemukan novelty, berimajinasi, dan berinovasi?
Dalam pengajaran pun kondisinya tidak jauh berbeda. Model tatap muka konvensional masih merajai, seolah tidak terjadi revolusi teknologi.
Jalan yang akan kami tempuh berbeda. Pertama, penggunaan AI dalam karya ilmiah harus diatur secara terbuka dan jujur. Mungkin aturannya berbeda-beda di setiap perguruan tinggi, tetapi prinsip keterbukaan harus menjadi dasar.
Kedua, kami mendorong lahirnya jurnal ilmiah berbasis AI. Keadaan lama dibalik. Kalau selama ini 85 persen pekerjaan dilakukan manusia dan 15 persen AI, kami menawarkan paradigma baru: 85 persen dikerjakan AI untuk pekerjaan yang memang dapat dikerjakannya, sedangkan 15 persen menjadi ruang manusia untuk novelty, imajinasi, dan inovasi. Kami akan memulainya dari satu jurnal di bidang SMEs.
LANGIT7.ID-Perguruan tinggi sampai sekarang belum bisa menerima AI dengan jujur. Contohnya jurnal ilmiah. AI masih dianggap haram, kecuali untuk pekerjaan teknis seperti grammar. Padahal dunia sudah berubah, tetapi kampus masih bertahan pada aturan lama.
Skripsi, tesis, dan disertasi juga demikian. Terjadi kucing-kucingan. Mahasiswa melihat hasil AI lebih dahulu, lalu mengetik ulang dengan bahasanya sendiri agar tidak terdeteksi. Semua orang tahu praktik ini terjadi, tetapi semua berpura-pura tidak tahu. Ini memalukan bagi dunia akademik.
Kita juga perlu bertanya, mengapa mahasiswa harus membaca dari A sampai Z literature review yang sebenarnya sudah dapat dikerjakan AI? Bukankah waktu itu lebih baik dipakai untuk berpikir, mengkritik, menemukan novelty, berimajinasi, dan berinovasi?
Dalam pengajaran pun kondisinya tidak jauh berbeda. Model tatap muka konvensional masih merajai, seolah tidak terjadi revolusi teknologi.
Jalan yang akan kami tempuh berbeda. Pertama, penggunaan AI dalam karya ilmiah harus diatur secara terbuka dan jujur. Mungkin aturannya berbeda-beda di setiap perguruan tinggi, tetapi prinsip keterbukaan harus menjadi dasar.
Kedua, kami mendorong lahirnya jurnal ilmiah berbasis AI. Keadaan lama dibalik. Kalau selama ini 85 persen pekerjaan dilakukan manusia dan 15 persen AI, kami menawarkan paradigma baru: 85 persen dikerjakan AI untuk pekerjaan yang memang dapat dikerjakannya, sedangkan 15 persen menjadi ruang manusia untuk novelty, imajinasi, dan inovasi. Kami akan memulainya dari satu jurnal di bidang SMEs.