Oleh: Prof Dr Bambang SetiajiLANGIT7.ID-Perguruan tinggi sampai sekarang belum bisa menerima AI dengan jujur. Contohnya jurnal ilmiah. AI masih dianggap haram, kecuali untuk pekerjaan teknis seperti grammar. Padahal dunia sudah berubah, tetapi kampus masih bertahan pada aturan lama.
Skripsi, tesis, dan disertasi juga demikian. Terjadi kucing-kucingan. Mahasiswa melihat hasil AI lebih dahulu, lalu mengetik ulang dengan bahasanya sendiri agar tidak terdeteksi. Semua orang tahu praktik ini terjadi, tetapi semua berpura-pura tidak tahu. Ini memalukan bagi dunia akademik.
Kita juga perlu bertanya, mengapa mahasiswa harus membaca dari A sampai Z literature review yang sebenarnya sudah dapat dikerjakan AI? Bukankah waktu itu lebih baik dipakai untuk berpikir, mengkritik, menemukan novelty, berimajinasi, dan berinovasi?
Dalam pengajaran pun kondisinya tidak jauh berbeda. Model tatap muka konvensional masih merajai, seolah tidak terjadi revolusi teknologi.
Jalan yang akan kami tempuh berbeda. Pertama, penggunaan AI dalam karya ilmiah harus diatur secara terbuka dan jujur. Mungkin aturannya berbeda-beda di setiap perguruan tinggi, tetapi prinsip keterbukaan harus menjadi dasar.
Kedua, kami mendorong lahirnya jurnal ilmiah berbasis AI. Keadaan lama dibalik. Kalau selama ini 85 persen pekerjaan dilakukan manusia dan 15 persen AI, kami menawarkan paradigma baru: 85 persen dikerjakan AI untuk pekerjaan yang memang dapat dikerjakannya, sedangkan 15 persen menjadi ruang manusia untuk novelty, imajinasi, dan inovasi. Kami akan memulainya dari satu jurnal di bidang SMEs.
Ketiga, harus ada pemisahan yang jelas antara blok AI dan blok manusia. Literature review dapat didominasi AI. Sebaliknya, penelitian lapangan tetap menjadi wilayah manusia. AI tidak bisa bertemu pengusaha, berdialog dengan pedagang kecil, menangkap ekspresi, membangun kepercayaan, dan merasakan denyut kehidupan masyarakat. Di situ 100 persen tugas peneliti.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Ekonomi Bagi Hasil Atasi Aset Mangkrak, Kemacetan Bank, hingga Gejolak KursDalam bidang pengajaran kami juga membagi mata kuliah menjadi dua kelompok. Mata kuliah inti atau basic tetap diajarkan secara intensif dengan metode sorogan, word by word method sebagaimana tradisi pesantren, bahkan dengan waktu pertemuan yang diperluas. Sebaliknya, mata kuliah yang bersifat wawasan dapat disiapkan dengan bantuan AI dalam bentuk video pembelajaran. Mahasiswa tetap diuji untuk memastikan kompetensinya benar-benar tercapai.
Inilah masa depan yang ingin kami kampanyekan. Justru dimulai dari perguruan tinggi klaster bawah yang menghadapi persoalan pembiayaan. Kami menawarkan model pendidikan dengan efisiensi yang sangat tinggi, bahkan dapat memangkas biaya operasional mendekati 70 persen, tanpa mengorbankan mutu lulusannya. Tujuan akhirnya bukan sekadar melahirkan pengguna AI, tetapi melahirkan lulusan yang AI-friendly, jujur, produktif, dan siap menghadapi dunia baru.(Ketua Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)