Fadli Zon Luncurkan 6 Buku Terjemahan Sastra Klasik, Dorong Karya Indonesia Mendunia
Tim langit 7
Jum'at, 03 Juli 2026 - 05:57 WIB
Fadli Zon Luncurkan 6 Buku Terjemahan Sastra Klasik, Dorong Karya Indonesia Mendunia
LANGIT7.ID-Jakarta; Dalam rangka memperingati Hari Sastra ke-13, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan menggelar Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia. Bertempat di Graha Utama Gedung A Lantai 3 Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, acara tersebut menjadi ajang peluncuran enam buku terjemahan karya sastra klasik yang tonggak penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menghadiri Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia dan secara resmi meluncurkan keenam buku terjemahan sastra klasik tersebut. Dalam sambutannya, Menteri Fadli menuturkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan ragam budaya (mega diversity) dengan cerita kearifan lokalnya masing-masing. Berangkat dari hal tersebut, Menbud menilai sastra dapat menjadi elemen penting bagi etalase budaya Indonesia.
“Banyak sekali karya-karya sastra kita yang luar biasa berkualitas, tetapi sulit diakses oleh para pembaca internasional. Salah satu persoalannya adalah kurangnya buku-buku sastra dalam bahasa asing, sehingga proses penerjemahan sastra Indonesia ke dalam bahasa asing membuat karya sastra kita menjadi lebih visible atau terlihat, dan lebih mudah atau accessible,” jelas Menbud dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).
Menteri Fadli turut menerangkan bahwa program penerjemahan karya klasik sastra Indonesia dalam rangkaian Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia merupakan langkah penting untuk mengenalkan sastra Indonesia panggung mancanegara. Menbud menegaskan bahwa penerjemahan karya sastra klasik bukan sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, melainkan menghadirkan pengalaman manusia Indonesia kepada pembaca lintas bangsa.
“Kami tentu terus berupaya membuka kemungkinan internasionalisasi sastra Indonesia dengan melahirkan para penerjemah dan promotor muda, serta memberikan Translation Funding Program untuk penerbit asing yang membeli hak cipta karya sastra Indonesia. Ini tentu merupakan bagian dari rantai penting dari ekosistem sastra, di mana program tersebut dapat mendukung kiprah penulis di festival internasional,” ujar Menbud Fadli Zon.
Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia merupakan rangkaian acara guna merepresentasikan perjalanan sastra Indonesia yang melintasi bahasa, zaman, budaya, dan generasi. Selain peluncuran buku, Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia menyuguhkan beragam pertunjukan alihwahana sastra, mulai instalasi, pemutaran video, hingga pertunjukan yang memadukan teater, tari, musik, dan multimedia.
Adapun keenam karya sastra klasik yang diterjemahkan merupakan tonggak penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia, berasal dari periode, genre, dan latar yang berbeda. Keenam karya klasik tersebut adalah Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang diterjemahkan oleh Annie Tucker; Kehilangan Mestika karya Fatimah Hasan Delais terjemahan Syarafina Vidyadhana; Tanah Gersang karya Mochtar Lubis terjemahan Zoe McLaughlin; Dua Dunia karya NH Dini terjemahan Saut Situmorang; kumpulan puisi Balada Orang-orang Tercinta karya WS Rendra penerjemah Lara Norgaard; serta Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang yang diterjemahkan oleh Suzan Piper.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menghadiri Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia dan secara resmi meluncurkan keenam buku terjemahan sastra klasik tersebut. Dalam sambutannya, Menteri Fadli menuturkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan ragam budaya (mega diversity) dengan cerita kearifan lokalnya masing-masing. Berangkat dari hal tersebut, Menbud menilai sastra dapat menjadi elemen penting bagi etalase budaya Indonesia.
“Banyak sekali karya-karya sastra kita yang luar biasa berkualitas, tetapi sulit diakses oleh para pembaca internasional. Salah satu persoalannya adalah kurangnya buku-buku sastra dalam bahasa asing, sehingga proses penerjemahan sastra Indonesia ke dalam bahasa asing membuat karya sastra kita menjadi lebih visible atau terlihat, dan lebih mudah atau accessible,” jelas Menbud dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).
Menteri Fadli turut menerangkan bahwa program penerjemahan karya klasik sastra Indonesia dalam rangkaian Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia merupakan langkah penting untuk mengenalkan sastra Indonesia panggung mancanegara. Menbud menegaskan bahwa penerjemahan karya sastra klasik bukan sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, melainkan menghadirkan pengalaman manusia Indonesia kepada pembaca lintas bangsa.
“Kami tentu terus berupaya membuka kemungkinan internasionalisasi sastra Indonesia dengan melahirkan para penerjemah dan promotor muda, serta memberikan Translation Funding Program untuk penerbit asing yang membeli hak cipta karya sastra Indonesia. Ini tentu merupakan bagian dari rantai penting dari ekosistem sastra, di mana program tersebut dapat mendukung kiprah penulis di festival internasional,” ujar Menbud Fadli Zon.
Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia merupakan rangkaian acara guna merepresentasikan perjalanan sastra Indonesia yang melintasi bahasa, zaman, budaya, dan generasi. Selain peluncuran buku, Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia menyuguhkan beragam pertunjukan alihwahana sastra, mulai instalasi, pemutaran video, hingga pertunjukan yang memadukan teater, tari, musik, dan multimedia.
Adapun keenam karya sastra klasik yang diterjemahkan merupakan tonggak penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia, berasal dari periode, genre, dan latar yang berbeda. Keenam karya klasik tersebut adalah Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang diterjemahkan oleh Annie Tucker; Kehilangan Mestika karya Fatimah Hasan Delais terjemahan Syarafina Vidyadhana; Tanah Gersang karya Mochtar Lubis terjemahan Zoe McLaughlin; Dua Dunia karya NH Dini terjemahan Saut Situmorang; kumpulan puisi Balada Orang-orang Tercinta karya WS Rendra penerjemah Lara Norgaard; serta Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang yang diterjemahkan oleh Suzan Piper.