Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.014 per Dolar AS, Dibayangi Penguatan Dolar dan Ketegangan Timur Tengah
Nabil
Rabu, 08 Juli 2026 - 17:17 WIB
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.014 per Dolar AS, Dibayangi Penguatan Dolar dan Ketegangan Timur Tengah
LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026) di tengah meningkatnya tekanan dari sentimen global dan domestik. Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup turun 34 poin ke level Rp18.014 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.980 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat melemah hingga 35 poin sebelum akhirnya menutup sesi di level tersebut.
Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan kondisi fundamental domestik yang menjadi perhatian pelaku pasar. Meski Bank Indonesia mencatat peningkatan cadangan devisa pada akhir Juni 2026, sentimen global yang memburuk masih membayangi pergerakan mata uang nasional.
Dari sisi domestik, kondisi fiskal menjadi salah satu sorotan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Semester I-2026 mencatat defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Realisasi tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 yang sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB.
Pendapatan negara hingga Semester I-2026 tercatat Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara mencapai Rp1.656 triliun. Meski secara tahunan defisit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 0,84% terhadap PDB, sejumlah ekonom menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal meningkatnya tekanan terhadap ruang fiskal pemerintah. Pelemahan nilai tukar dinilai lebih cepat mendorong kenaikan belanja negara dibandingkan peningkatan penerimaan.
Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi US$145,6 miliar dari US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026. Kenaikan tersebut didukung penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia menyebut posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu juga masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor sehingga dinilai mampu menjaga ketahanan sektor eksternal, stabilitas makroekonomi, dan sistem keuangan.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, "Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 34 point sebelumnya sempat melemah 35 point dilevel Rp.18.014 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.980," ujar dia dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).
Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan kondisi fundamental domestik yang menjadi perhatian pelaku pasar. Meski Bank Indonesia mencatat peningkatan cadangan devisa pada akhir Juni 2026, sentimen global yang memburuk masih membayangi pergerakan mata uang nasional.
Dari sisi domestik, kondisi fiskal menjadi salah satu sorotan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Semester I-2026 mencatat defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Realisasi tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 yang sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB.
Pendapatan negara hingga Semester I-2026 tercatat Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara mencapai Rp1.656 triliun. Meski secara tahunan defisit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 0,84% terhadap PDB, sejumlah ekonom menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal meningkatnya tekanan terhadap ruang fiskal pemerintah. Pelemahan nilai tukar dinilai lebih cepat mendorong kenaikan belanja negara dibandingkan peningkatan penerimaan.
Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi US$145,6 miliar dari US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026. Kenaikan tersebut didukung penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia menyebut posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu juga masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor sehingga dinilai mampu menjaga ketahanan sektor eksternal, stabilitas makroekonomi, dan sistem keuangan.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, "Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 34 point sebelumnya sempat melemah 35 point dilevel Rp.18.014 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.980," ujar dia dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).