home masjid

Hikmah Mendahulukan Iyyaka dalam Surat Al Fatihah Ayat 5

Selasa, 21 Juli 2026 - 05:47 WIB
Hikmah Mendahulukan Iyyaka dalam Surat Al Fatihah Ayat 5
Pembahasan ayat kelima Surat Al-Fatihah memegang peranan yang sangat fundamental dalam memahami hakikat tauhid dan penghambaan seorang muslim. Dalamkarya Tafsir Al-Fatihah, KH Aceng Zakaria mengulas secara mendalam hikmah di balik struktur bahasa dan keindahan sastra Al-Qur'an pada lafaz Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in.

‎‎Melalui kajian kebahasaan yang teliti, mulai dari penjelasan makna kata, alasan pendahuluan objek penderita (maf'ul bih), hingga rahasia di balik pengulangan kata Iyyaka, KH Aceng mengungkap pesan utama ayat tersebut tentang penegasan kemurnian ibadah serta pemusatan permohonan pertolongan yang hanya ditujukan kepada Allah SWT.

‎‎ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

‎‎"Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan." (QS Al-Fatihah: 5).

‎‎Penjelasan kata per kata dari ayat ini ialah lafaz Iyyaka dengan syaddah (tasydid) artinya kepada-Mu, sedangkan jika ditulis tanpa syaddah artinya cahaya matahari. Kata Na'budu berarti kami beribadah, wa iyyaka berarti dan hanya kepada-Mu, serta nasta'inu berarti kami memohon pertolongan.

‎Ditinjau dari kajian kebahasaan, terdapat hikmah yang mendalam pada posisi kata Iyyaka yang didahulukan. Secara struktur tata bahasa, Iyyaka berkedudukan sebagai maf'ul bih (objek penderita), sementara na'budu adalah fi'il dan fa'il (kata kerja dan subjek).

‎‎Dalam susunan kalimat bahasa Arab yang biasa, objek biasanya ditempatkan di akhir setelah kata kerja dan subjek. Namun dalam ayat ini, objek didahulukan. Hal ini sesuai dengan kaidah balagah: Mendahulukan ma'mul (objek) yang seharusnya diakhirkan memberikan arti hashr (pengkhususan atau pembatasan).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya