Rupiah Tertekan ke Rp17.936 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Sinyal The Fed Bikin Pasar Waspada
Nabil
Kamis, 23 Juli 2026 - 15:08 WIB
(Dok: Ilustrasi Langit7.id)
LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Setelah sempat menguat di awal sesi, mata uang Garuda akhirnya ditutup melemah 19 poin ke level Rp17.936 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.920 per dolar AS.
Pergerakan rupiah yang berbalik arah tersebut mencerminkan tingginya kehati-hatian pelaku pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Rupiah bahkan sempat menguat hingga 20 poin sebelum tekanan jual kembali mendominasi menjelang penutupan perdagangan.
Dari dalam negeri, pasar mencermati sejumlah perkembangan yang dinilai dapat memengaruhi sentimen terhadap rupiah. Salah satunya adalah wacana efisiensi anggaran pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang penyesuaian anggaran pertahanan dan kepolisian apabila kondisi fiskal dan target defisit anggaran menghadapi tekanan. Meski demikian, pemerintah menegaskan belum ada pembahasan mengenai pengalihan anggaran tersebut.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan pemerintah akan melakukan penghematan anggaran untuk mendukung program pengentasan kemiskinan dan kelaparan. Bahkan, jika diperlukan, anggaran pertahanan maupun kepolisian dapat dikurangi demi mencapai tujuan tersebut.
Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% turut menjadi penopang stabilitas pasar. Kebijakan itu diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mempertahankan inflasi dalam sasaran pemerintah, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan arus investasi portofolio asing ke pasar keuangan domestik.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, "Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 19 point sebelumnya sempat menguat 20 point dilevel Rp.17.936 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.920," ujar dia dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).
Menurut Ibrahim, arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global yang membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.
Pergerakan rupiah yang berbalik arah tersebut mencerminkan tingginya kehati-hatian pelaku pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Rupiah bahkan sempat menguat hingga 20 poin sebelum tekanan jual kembali mendominasi menjelang penutupan perdagangan.
Dari dalam negeri, pasar mencermati sejumlah perkembangan yang dinilai dapat memengaruhi sentimen terhadap rupiah. Salah satunya adalah wacana efisiensi anggaran pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang penyesuaian anggaran pertahanan dan kepolisian apabila kondisi fiskal dan target defisit anggaran menghadapi tekanan. Meski demikian, pemerintah menegaskan belum ada pembahasan mengenai pengalihan anggaran tersebut.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan pemerintah akan melakukan penghematan anggaran untuk mendukung program pengentasan kemiskinan dan kelaparan. Bahkan, jika diperlukan, anggaran pertahanan maupun kepolisian dapat dikurangi demi mencapai tujuan tersebut.
Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% turut menjadi penopang stabilitas pasar. Kebijakan itu diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mempertahankan inflasi dalam sasaran pemerintah, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan arus investasi portofolio asing ke pasar keuangan domestik.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, "Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 19 point sebelumnya sempat menguat 20 point dilevel Rp.17.936 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.920," ujar dia dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).
Menurut Ibrahim, arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global yang membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.