Kemenag Gelar Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas, Awali Rangkaian Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI
Tim langit 7
Jum'at, 31 Juli 2026 - 21:51 WIB
(Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Agama akan menyelenggarakan Zikir dan Doa Kebangsaan pada Sabtu, 1 Agustus 2026, di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Kegiatan bertema "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur" tersebut menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan diperkirakan akan diikuti sekitar 100.000 peserta dari berbagai elemen masyarakat.
Mengawali rangkaian peringatan kemerdekaan dengan zikir dan doa merupakan tradisi kebangsaan yang mencerminkan karakter religius bangsa Indonesia. Kemerdekaan dipandang bukan hanya sebagai buah perjuangan para pendiri bangsa, tetapi juga sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang patut disyukuri dan dijaga bersama.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur masyarakat, antara lain tokoh agama, tokoh masyarakat, penyuluh agama, pelajar, santri, mahasiswa, guru, organisasi kemasyarakatan, aparatur sipil negara (ASN), serta masyarakat umum dari berbagai daerah. Rangkaian kegiatan akan diawali dengan Salat Magrib berjamaah bagi peserta muslim, dilanjutkan Senandung Salawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, zikir bersama, doa kebangsaan yang dipimpin para tokoh lintas agama, serta penampilan paduan suara kebangsaan sebagai simbol persatuan dalam keberagaman.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, selaku sekretaris Tim Kerja kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momentum tersebut sebagai ungkapan syukur atas nikmat kemerdekaan sekaligus ikhtiar bersama memohon keselamatan dan kemajuan bangsa.
"Kemerdekaan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa sekaligus buah perjuangan para pahlawan. Karena itu, mengawali bulan kemerdekaan dengan zikir dan doa merupakan cara bangsa Indonesia memadukan rasa syukur, persatuan, dan ikhtiar membangun masa depan. Kerja keras harus berjalan seiring dengan doa, sebagaimana ikhtiar lahir perlu disertai ikhtiar batin," ujar Muchlis.
Menurut Muchlis, doa tidak dimaksudkan menggantikan kerja keras, tetapi menjadi kekuatan moral yang mengiringi setiap ikhtiar membangun bangsa. Kemajuan Indonesia hanya dapat dicapai apabila pembangunan fisik berjalan beriringan dengan pembangunan karakter, persatuan, serta penguatan nilai-nilai spiritual.
"Momentum peringatan kemerdekaan bukan hanya untuk mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan melalui doa dan kebersamaan. Mari kita awali bulan kemerdekaan dengan memanjatkan doa agar Indonesia senantiasa diberi kedamaian, keberkahan, serta mampu mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur," katanya.
Mengawali rangkaian peringatan kemerdekaan dengan zikir dan doa merupakan tradisi kebangsaan yang mencerminkan karakter religius bangsa Indonesia. Kemerdekaan dipandang bukan hanya sebagai buah perjuangan para pendiri bangsa, tetapi juga sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang patut disyukuri dan dijaga bersama.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur masyarakat, antara lain tokoh agama, tokoh masyarakat, penyuluh agama, pelajar, santri, mahasiswa, guru, organisasi kemasyarakatan, aparatur sipil negara (ASN), serta masyarakat umum dari berbagai daerah. Rangkaian kegiatan akan diawali dengan Salat Magrib berjamaah bagi peserta muslim, dilanjutkan Senandung Salawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, zikir bersama, doa kebangsaan yang dipimpin para tokoh lintas agama, serta penampilan paduan suara kebangsaan sebagai simbol persatuan dalam keberagaman.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, selaku sekretaris Tim Kerja kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momentum tersebut sebagai ungkapan syukur atas nikmat kemerdekaan sekaligus ikhtiar bersama memohon keselamatan dan kemajuan bangsa.
"Kemerdekaan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa sekaligus buah perjuangan para pahlawan. Karena itu, mengawali bulan kemerdekaan dengan zikir dan doa merupakan cara bangsa Indonesia memadukan rasa syukur, persatuan, dan ikhtiar membangun masa depan. Kerja keras harus berjalan seiring dengan doa, sebagaimana ikhtiar lahir perlu disertai ikhtiar batin," ujar Muchlis.
Menurut Muchlis, doa tidak dimaksudkan menggantikan kerja keras, tetapi menjadi kekuatan moral yang mengiringi setiap ikhtiar membangun bangsa. Kemajuan Indonesia hanya dapat dicapai apabila pembangunan fisik berjalan beriringan dengan pembangunan karakter, persatuan, serta penguatan nilai-nilai spiritual.
"Momentum peringatan kemerdekaan bukan hanya untuk mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan melalui doa dan kebersamaan. Mari kita awali bulan kemerdekaan dengan memanjatkan doa agar Indonesia senantiasa diberi kedamaian, keberkahan, serta mampu mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur," katanya.