Suriah dan Rusia Capai Kesepakatan soal Masa Depan Dua Pangkalan Militer Moskow
Tim langit 7
Senin, 10 Agustus 2026 - 05:00 WIB
(Dok: Ilustrasi Langit7.id)
LANGIT7.ID-Jakarta; Pemerintah Suriah menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Moskow mengenai masa depan dua pangkalan militer Rusia yang selama ini menjadi bagian penting dari dukungan militer Kremlin terhadap rezim Bashar al-Assad selama perang saudara di Suriah.
Badan berita resmi Suriah, SANA, mengutip Kementerian Luar Negeri Suriah yang menyebut Pangkalan Udara Hmeimim dan Pangkalan Angkatan Laut Tartus akan dialihfungsikan menjadi “pusat pelatihan bersama dan pembangunan kapasitas, dalam pengaturan baru yang menjaga kepentingan bersama.”
Kedua pangkalan tersebut merupakan satu-satunya pangkalan militer resmi Rusia di luar wilayah bekas Uni Soviet.
Kesepakatan itu dituangkan dalam sebuah nota kesepahaman yang dicapai setelah melalui negosiasi selama satu setengah tahun. Menurut SANA, nota tersebut menetapkan batas waktu maksimal tiga bulan untuk menyelesaikan proses tersebut.
Selama masa transisi, fasilitas sipil yang berada di kedua pangkalan akan diserahkan kepada pemerintah di Damaskus.
Rusia merupakan salah satu sekutu utama Assad selama konflik Suriah yang berlangsung selama 13 tahun. Dukungan militer Moskow menjadi faktor penting yang membantu mempertahankan kekuasaan pasukan Assad.
Namun, jatuhnya Assad pada 2024 menjadi pukulan besar bagi pengaruh Rusia di kawasan tersebut. Sejak itu, Presiden Rusia Vladimir Putin berupaya membangun hubungan dengan pemerintahan Islamis baru di Damaskus guna mengamankan masa depan pangkalan-pangkalan Rusia di Suriah.
Badan berita resmi Suriah, SANA, mengutip Kementerian Luar Negeri Suriah yang menyebut Pangkalan Udara Hmeimim dan Pangkalan Angkatan Laut Tartus akan dialihfungsikan menjadi “pusat pelatihan bersama dan pembangunan kapasitas, dalam pengaturan baru yang menjaga kepentingan bersama.”
Kedua pangkalan tersebut merupakan satu-satunya pangkalan militer resmi Rusia di luar wilayah bekas Uni Soviet.
Kesepakatan itu dituangkan dalam sebuah nota kesepahaman yang dicapai setelah melalui negosiasi selama satu setengah tahun. Menurut SANA, nota tersebut menetapkan batas waktu maksimal tiga bulan untuk menyelesaikan proses tersebut.
Selama masa transisi, fasilitas sipil yang berada di kedua pangkalan akan diserahkan kepada pemerintah di Damaskus.
Rusia merupakan salah satu sekutu utama Assad selama konflik Suriah yang berlangsung selama 13 tahun. Dukungan militer Moskow menjadi faktor penting yang membantu mempertahankan kekuasaan pasukan Assad.
Namun, jatuhnya Assad pada 2024 menjadi pukulan besar bagi pengaruh Rusia di kawasan tersebut. Sejak itu, Presiden Rusia Vladimir Putin berupaya membangun hubungan dengan pemerintahan Islamis baru di Damaskus guna mengamankan masa depan pangkalan-pangkalan Rusia di Suriah.