home global news

Refleksi Kemerdekaan Bidang Ekonomi

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 21:20 WIB
(Dok: Istimewa)
Oleh: Prof Didik J.Rachbini

LANGIT7.ID-Tujuan bangsa ini berdiri, seperti dinyatakan dalam konstitusi oleh pendiri bangsa, adalah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan ini sama dan sebagngun dengan tema Kemerdekaan RI ke-81 tahun ini , yaitu "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, dengan filosofi utama mencakup kolektivitas, sinergi, dan pertumbuhan.

Sudah ada kemajuan yang berarti dalam mencapai tujuan kesejahteraan umum tetapi masih jauh dari adil dan setara dengan negara-negara lain. Indonesia terpuruk jatuh perekonomiannya pada tahun 1998 dengan pendapatan sekitar 455 dollar per kapita. Tetapi dengan transisi yang dilakukan oleh Habibie secara perlahan terwujud stabilitas ekonomi dan politik. Nilai tukar distabilkan dari 16400 rupiah per dollar menjadi 6500 rupiah per dollar. Undang-undang BI independen dan undang-undang anti monopoli dibuat, demokrasi dibuka, pers bebas dikembangkan, tahanan politik dibebaskan. Kepemimpinan Gus Dur dan Megawati juga memberi arti terhadap perkembangan ekonomi dan kemudian masuk menjadi negara besar dalam ekonomi, yakni G-20 dengan pendapatan 5 ribu dollar per kapita.

Di balik kemajuan tersebut, Indonesia ternyata masih belum setera dengan negara lain yang berkembang bersama dalam4-5 dekade terakhir ini. Pada tahun 1960-an pendapatan Indonesia dan Korea Selatan tidak jauh berbeda. Namun setelah 50 tahun pendapatan Korea Selatan (36 ribu USD per kapita) 7 kali dari pendapatan Indonesia (5 ribu USD per kapita).

Selain, perkembangan lambat dan belum setara dengan negara lain, kini selama 5 tahun terakhir ini terjadi penurunan kelas menengah, yang merupakan tulang punggung ekonomi. Dalam studi LPEM FEB UI, sebanyak 8,5 juta orang keluar dari kelas menengah. Ini artinya turun kelas dan semakin miskin. Masa kepemimpinan Jokowi lebih banyak akarobat politik daripada membangun strategi dan kebijakan ekonomi. LPEM UI mencatat bahwa pada tahun 2018 jumlah kelas menengah sekitar 60 juta orang (sekitar 23% populasi), namun pada .

Tahun 2023 tinggal sekitar 52 juta orang (18,8% populasi). Ini merupakan pertanda bahwa kesejahteraan golongan menengah dan bawah masih menjadi masalah besar di negeri ini.

Presiden Prabowo mewarisi penurunan kesejahteraan golongan masyarakat yang sudah naik kelas lalu turun kembali karena pertumbuhan ekonomi hanya bergerak moderat 5 persen saja. Itu pun didukung oleh perkembangan golongan atas. Golongan menengah tersebut kini tergerus tabungannya seperti terlihat kelompok penabung paling bawah dengan nilai 100 juga ke bawah semakin banyak jumlahnya dari 292 juta tabungan pada tahun 2019 dengan rata-rata nilai tabungan 2,9 juta per tabungan menjadi 666 juta tabungan dengan nilai rata-rata hanya 2,7 juta per tabungan. Sementara itu golongan atas, pemilik akun di atas 5 milyar meningkat jumlahnya dari 8500 orang menjadi 129 ribu orang dengan rata-rata tabungan meningkat dari 24 milyar per tabungan menjadi 35 milyar per tabungan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya